Lesunya Otomotif dan Batubara Minggirkan Laba Grup Astra di 2025
Jakarta – Performa keuangan PT Astra International Tbk (ASII) dan unit-unit usahanya sepanjang tahun buku 2025 menunjukkan tekanan signifikan akibat lesunya segmen otomotif dan industri batubara. Dua pilar bisnis ini, yang selama ini menjadi kekuatan utama kelompok usaha Astra, kini menjadi salah satu faktor utama penurunan pendapatan dan laba bersih grup tahun lalu.
Laporan keuangan Astra yang dipublikasikan akhir Februari 2026 mengungkapkan bahwa pendapatan bersih perusahaan turun menjadi Rp323,4 triliun sepanjang 2025, atau turun sekitar 2 persen dibandingkan tahun 2024. Itu berdampak pada laba bersih yang juga mengecil, yakni tercatat sekitar Rp32,8 triliun, turun sekitar 3 persen secara tahunan.
Segmen Otomotif Merosot di Tengah Pasar Mobil Lesu
Walaupun bisnis otomotif tetap menjadi penyumbang utama pendapatan, tekanan di pasar mobil baru yang melemah menjadi kendala serius bagi kinerja Astra. Pasar otomotif nasional yang lesu membuat penjualan unit mobil baru turun dan memengaruhi kontribusi segmen ini terhadap laba perusahaan. Pendapatan dari segmen otomotif dan mobilitas tercatat mencapai lebih dari Rp125 triliun, tetapi tumbuh lebih lambat dibanding periode sebelumnya dan belum mampu menjadi pengerek pertumbuhan grup secara keseluruhan.
Meski demikian, divisi sepeda motor dan komponen tetap menahan posisi Astra sebagai salah satu pemain utama di industri otomotif domestik. Namun, penurunan daya beli konsumen terhadap kendaraan baru memberi tekanan tajam terhadap kontribusi laba di segmen ini.
Batubara dan Alat Berat Juga Turun, Tekan Laba Grup
Segmen batubara dan alat berat yang menjadi poros bisnis investasi Astra juga mengalami kontraksi. Penurunan harga batubara global dan permintaan komoditas yang melemah membuat pendapatan dari segmen pertambangan batubara termal dan metalurgi turun signifikan sepanjang 2025. Akibatnya, kontribusi terhadap laba bersih turun sehingga menekan performa alat berat, konstruksi, dan energi secara keseluruhan.
Unit usaha terkait kontraktor pertambangan seperti PT United Tractors Tbk (UNTR), yang menjadi salah satu emiten afiliasi utama Astra, juga mencatat penurunan kinerja. Pendapatan UNTR menyusut sekitar 2 persen year-on-year, terutama disebabkan turunnya pendapatan dari kontraktor penambangan dan segmen mesin konstruksi, sekaligus tekanan pada batubara.
Penurunan pendapatan dari kontraktor penambangan dilaporkan berkisar hingga 7 persen, sedangkan kontribusi pendapatan dari segmen pertambangan batubara termal juga turun di kisaran angka yang sama, menunjukkan tekanan nyata di portofolio bisnis komoditas.
Pasar Saham Bereaksi terhadap Kinerja Keuangan
Kondisi kinerja keuangan yang kurang menggembirakan ini mencerminkan sentimen pasar yang ikut terkoreksi. Harga saham ASII dan UNTR sempat mengalami penurunan pada perdagangan akhir Februari 2026 setelah pengumuman laporan hasil keuangan. Saham ASII misalnya sempat turun hampir 1,5 persen, sedangkan UNTR anjlok hampir 4 persen, menunjukkan tekanan pasar terhadap kedua emiten utama grup ini.
Reaksi negatif ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan laba di tengah kondisi pasar otomotif yang stagnan dan volatilitas harga komoditas batubara yang belum membaik.
Diversifikasi Bisnis dan Harapan 2026
Meski tantangan nyata masih membayangi, manajemen Astra menilai portofolio bisnis yang terdiversifikasi cukup membantu menahan tekanan yang lebih parah. Beberapa segmen lain seperti jasa keuangan, agribisnis, teknologi informasi, dan infrastruktur masih menunjukkan pertumbuhan positif yang membantu meredam dampak negatif dari segmen otomotif dan batubara.
Presiden Direktur ASII, Djony Bunarto Tjondro, menyatakan bahwa meskipun kondisi operasional di beberapa segmen masih menantang, Astra tetap berfokus pada efisiensi, keunggulan operasional, dan alokasi modal yang disiplin untuk menjaga keberlanjutan nilai bagi pemegang saham.
Strategi diversifikasi ini diharapkan bisa menjadi bantalan pertumbuhan ketika segmen otomotif dan komoditas kembali menunjukkan tanda perbaikan sejalan dengan pulihnya permintaan pasar dan stabilisasi harga komoditas global.

