Harga BBM “Orang Kaya” di RI Melejit, Tembus Rp25.560 per Liter
BBM Non-Subsidi Naik Tajam
Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di Indonesia kembali mengalami lonjakan signifikan. Bahkan, salah satu jenis BBM kini menembus angka Rp25.560 per liter, memicu perhatian publik.
Kenaikan ini terjadi setelah penyesuaian harga oleh sejumlah perusahaan energi, termasuk Pertamina dan operator swasta, pada pertengahan April 2026.
Tembus Rp25 Ribu per Liter
Lonjakan paling mencolok terjadi pada BBM jenis diesel premium dari SPBU swasta, yakni Ultimate Diesel yang kini dibanderol Rp25.560 per liter.
Harga tersebut melonjak drastis dari sebelumnya sekitar Rp14.620 per liter, menunjukkan kenaikan lebih dari Rp10.000 hanya dalam satu periode penyesuaian.
Kenaikan ini menjadikannya sebagai salah satu harga BBM tertinggi di Indonesia saat ini.
Jenis BBM Lain Juga Ikut Naik
Tidak hanya satu jenis, sejumlah BBM non-subsidi lainnya juga mengalami kenaikan signifikan, di antaranya:
- Pertamax Turbo: Rp19.400 per liter (sebelumnya Rp13.100)
- Dexlite: Rp23.600 per liter (sebelumnya sekitar Rp14.200)
- Pertamina Dex: Rp23.900 per liter (sebelumnya Rp14.500)
Kenaikan ini mencerminkan tekanan yang cukup besar di sektor energi dalam negeri.
Disebut “BBM Orang Kaya”
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyebut bahwa BBM yang mengalami kenaikan ini merupakan BBM non-subsidi yang umumnya digunakan oleh kalangan mampu.
Menurutnya, pemerintah hanya mengatur harga BBM subsidi, sementara BBM non-subsidi mengikuti mekanisme pasar global.
Ia bahkan secara terbuka menyebut bahwa BBM seperti Pertamax Turbo dan diesel berkualitas tinggi memang ditujukan untuk “orang mampu”.
BBM Subsidi Tetap Stabil
Di tengah lonjakan harga BBM non-subsidi, pemerintah memastikan bahwa harga BBM subsidi tetap stabil.
Beberapa harga yang tidak mengalami perubahan antara lain:
- Pertalite: Rp10.000 per liter
- Solar subsidi: Rp6.800 per liter
Langkah ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat dan menghindari dampak inflasi yang lebih luas.
Penyebab Kenaikan Harga
Kenaikan harga BBM non-subsidi tidak terlepas dari berbagai faktor global dan domestik.
Beberapa penyebab utama meliputi:
- Fluktuasi harga minyak dunia
- Ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah
- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
- Kebijakan energi global
Faktor-faktor ini membuat harga BBM non-subsidi menjadi sangat dinamis.
Mengikuti Mekanisme Pasar
Sesuai regulasi, harga BBM non-subsidi memang mengikuti harga pasar internasional.
Hal ini diatur dalam kebijakan Kementerian ESDM, di mana harga ditentukan berdasarkan:
- Harga minyak mentah dunia
- Biaya distribusi
- Pajak daerah
- Kurs valuta asing
Karena itu, perubahan harga bisa terjadi kapan saja mengikuti kondisi global.
Dampak bagi Masyarakat
Meski disebut sebagai BBM untuk kalangan mampu, kenaikan harga ini tetap memiliki dampak tidak langsung bagi masyarakat luas.
Beberapa dampak yang mungkin terjadi:
- Biaya logistik meningkat
- Harga barang berpotensi naik
- Biaya operasional industri bertambah
Efek ini bisa merambat ke berbagai sektor ekonomi.
Industri dan Transportasi Ikut Terpengaruh
BBM non-subsidi banyak digunakan oleh sektor industri dan kendaraan tertentu.
Kenaikan harga ini berpotensi meningkatkan biaya produksi, terutama di sektor:
- Transportasi logistik
- Industri manufaktur
- Pertambangan
- Perkebunan
Jika tidak diantisipasi, kenaikan ini bisa berdampak pada harga barang di pasaran.
Perbandingan dengan Negara Lain
Meski mengalami kenaikan, harga BBM di Indonesia masih tergolong kompetitif dibandingkan beberapa negara lain.
Hal ini terutama karena adanya subsidi pemerintah untuk jenis BBM tertentu.
Namun, untuk BBM non-subsidi, harga cenderung mengikuti tren global tanpa intervensi langsung.
Kebijakan Energi Jadi Sorotan
Kenaikan ini kembali memicu diskusi mengenai kebijakan energi nasional.
Beberapa pihak menilai perlu adanya:
- Diversifikasi energi
- Pengembangan energi terbarukan
- Efisiensi penggunaan BBM
Langkah ini penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak dunia.
Kesimpulan
Harga BBM non-subsidi di Indonesia mengalami lonjakan signifikan, bahkan mencapai Rp25.560 per liter untuk jenis tertentu.
Kenaikan ini dipicu oleh faktor global dan mengikuti mekanisme pasar, sehingga tidak berada di bawah kontrol langsung pemerintah.
Meski BBM subsidi tetap stabil, dampak tidak langsung dari kenaikan ini tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi berbagai sektor ekonomi.

