Lebih Keras dari Mesin Bor, Ilmuwan Ungkap Dua Burung Terbising di Dunia
JAKARTA – Suara burung yang biasanya identik dengan kicauan merdu ternyata bisa menghasilkan kebisingan luar biasa. Penelitian terbaru mengungkap dua spesies burung yang mampu mengeluarkan suara dengan intensitas lebih dari 120 desibel, bahkan disebut sebanding dengan suara mesin bor jackhammer.
Kedua burung tersebut adalah bare-throated bellbird dan red-legged seriema. Keduanya masuk dalam daftar burung dengan vokalisasi paling keras yang pernah diukur oleh para peneliti.
Temuan ini berasal dari penelitian yang dilakukan ahli biologi João C. T. Menezes bersama profesor Jeffrey Podos dari University of Massachusetts Amherst, Amerika Serikat. Hasil penelitian mereka dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Evolution pada September 2026.
Penelitian tersebut tidak semata-mata bertujuan mencari burung dengan suara paling keras. Para ilmuwan ingin mengetahui hubungan antara karakteristik fisik burung dan kemampuan menghasilkan suara dengan intensitas tinggi.
Untuk itu, tim peneliti mengumpulkan data suara dari 123 spesies burung yang ditemukan di Massachusetts, Amerika Serikat, serta sejumlah wilayah di Brasil.
Hasil pengukuran memperlihatkan perbedaan yang sangat besar. Burung terkecil dalam penelitian, dusky-throated hermit yang termasuk kelompok kolibri, menghasilkan suara sekitar 64 desibel. Sementara itu, sejumlah spesies mampu menembus angka lebih dari 120 desibel.
Dua Burung Mampu Menyaingi Suara Mesin Bor
Bare-throated bellbird dan red-legged seriema menjadi dua spesies yang mendapat perhatian dalam penelitian tersebut.
Suara bare-throated bellbird tercatat mencapai puncak hampir 131 desibel ketika diukur dari jarak standar satu meter. Angka tersebut menjadikannya salah satu burung dengan suara paling keras yang pernah direkam dalam pengukuran penelitian ini.
Sementara itu, red-legged seriema memiliki rata-rata intensitas suara tertinggi berdasarkan penghitungan tertentu terhadap individu yang diteliti.
Penentuan burung paling bising ternyata tidak sesederhana membandingkan satu angka. Hasilnya bisa berbeda bergantung pada metode pengukuran, apakah menggunakan suara paling keras dari satu individu atau rata-rata intensitas dari sejumlah individu.
Selain dua spesies tersebut, white bellbird juga tetap menjadi salah satu burung dengan kemampuan vokalisasi ekstrem. Spesies ini sebelumnya dikenal luas setelah penelitian pada 2019 mencatat suara panggilannya mencapai sekitar 125 desibel.
Dengan demikian, ketiga spesies tersebut menjadi perhatian dalam pembahasan mengenai burung dengan suara paling keras di dunia.
Peneliti João Menezes menggambarkan tingkat kebisingan suara burung tersebut sebanding dengan seseorang yang berdiri dekat mesin bor jackhammer. Perbandingan itu menunjukkan betapa kuatnya suara yang dapat dihasilkan hewan berukuran relatif kecil.
Penelitian Mengukur 123 Spesies Burung
Mengukur suara burung di alam liar bukan pekerjaan mudah. Intensitas suara yang diterima alat ukur sangat dipengaruhi jarak antara sumber suara dan perangkat perekam.
Suara burung yang terdengar sangat keras dari jarak dekat bisa melemah ketika didengar dari tempat yang lebih jauh. Karena itu, pengukuran tanpa mengetahui jarak secara tepat berisiko menghasilkan perbandingan yang tidak akurat.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Menezes dan Podos menggunakan alat pengukur tingkat kebisingan yang biasa dipakai dalam pemantauan keselamatan kerja. Mereka juga memanfaatkan laser rangefinder, perangkat pengukur jarak yang sering digunakan dalam olahraga golf.
Kombinasi kedua alat tersebut memungkinkan peneliti mencatat intensitas suara sekaligus mengetahui jarak burung dari perangkat pengukur.
Data yang terkumpul kemudian dikoreksi agar seluruh hasil pengukuran dapat dibandingkan berdasarkan standar jarak satu meter dari sumber suara.
Penelitian berlangsung sejak Desember 2018 hingga Januari 2025 di sejumlah lokasi di Amerika Serikat dan Brasil. Dari total 123 spesies yang diteliti, sebanyak 113 spesies sebelumnya belum memiliki catatan pengukuran intensitas suara yang terdokumentasi dalam data penelitian tersebut.
Hasilnya memberikan gambaran lebih luas mengenai variasi kemampuan vokalisasi burung. Perbedaan antara suara paling pelan dan paling keras mencapai puluhan desibel.
Ukuran Tubuh dan Lebar Paruh Berpengaruh
Salah satu temuan utama penelitian adalah hubungan antara ukuran tubuh dan kemampuan menghasilkan suara keras.
Secara umum, spesies burung dengan tubuh lebih besar cenderung mampu menghasilkan intensitas suara lebih tinggi. Peneliti menduga hal tersebut berkaitan dengan kemampuan otot tubuh dalam menghasilkan tekanan udara yang lebih besar ketika burung mengeluarkan suara.
Selain ukuran tubuh, lebar bukaan paruh juga menjadi faktor penting. Burung dengan bukaan paruh lebih lebar cenderung menghasilkan suara yang lebih keras.
Mekanismenya dapat dibayangkan seperti corong pada alat musik tiup. Bukaan yang lebih lebar memungkinkan energi suara terpancar lebih efektif ke lingkungan sekitar.
Kombinasi ukuran tubuh, kekuatan otot, dan bentuk paruh diduga membantu beberapa spesies menghasilkan panggilan dengan intensitas luar biasa.
Meski demikian, para peneliti belum dapat menjelaskan seluruh mekanisme yang membuat burung mampu menghasilkan suara sekeras itu. Masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami faktor biologis lain yang mungkin berperan.
Mengapa Burung Membutuhkan Suara Sangat Keras?
Selain mengukur kemampuan vokalisasi, para peneliti juga mencoba memahami alasan evolusi di balik suara burung yang sangat keras.
Salah satu dugaan awal adalah burung yang hidup di hutan lebat membutuhkan suara lebih kuat agar dapat berkomunikasi dengan individu lain yang terhalang pepohonan.
Dugaan lainnya berkaitan dengan perilaku perkawinan. Burung yang memiliki banyak pasangan diperkirakan membutuhkan panggilan keras untuk menarik perhatian lawan jenis.
Namun, hasil penelitian tidak menemukan satu pola yang berlaku untuk semua spesies.
Bare-throated bellbird hidup di kawasan hutan dan memiliki sistem perkawinan yang berbeda dengan red-legged seriema. Spesies seriema umumnya hidup di habitat terbuka dan dikenal membentuk pasangan dalam jangka panjang.
Walaupun memiliki pola kehidupan berbeda, keduanya sama-sama mampu menghasilkan suara dengan intensitas sangat tinggi.
Menezes dan Podos menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menghasilkan suara keras kemungkinan berkembang melalui lebih dari satu jalur evolusi.
Dengan kata lain, tidak ada satu alasan sederhana yang bisa menjelaskan mengapa seluruh burung dengan suara ekstrem memiliki kemampuan tersebut.
Suara Keras Berpotensi Mengganggu Pendengaran
Angka di atas 120 desibel bukan sekadar ukuran suara yang terdengar nyaring. Tingkat kebisingan tersebut sudah berada pada rentang yang berpotensi membahayakan pendengaran manusia, terutama jika seseorang terpapar dalam kondisi dan durasi tertentu.
Itulah sebabnya perbandingan dengan mesin bor bukan hanya gambaran dramatis. Dalam lingkungan kerja, orang yang menggunakan atau berada dekat peralatan dengan tingkat kebisingan tinggi memang membutuhkan perlindungan pendengaran.
Meski demikian, pengukuran suara burung dalam penelitian dilakukan pada jarak standar dan dalam kondisi pengamatan tertentu. Angka tersebut tidak berarti suara burung akan selalu terdengar dengan intensitas yang sama dari jarak jauh.
Penelitian ini menjadi langkah penting untuk memahami kemampuan komunikasi hewan. Para ilmuwan kini memiliki data lebih luas mengenai hubungan antara bentuk tubuh, karakteristik paruh, dan kekuatan suara burung.
Namun, pertanyaan mengenai alasan evolusi yang membuat beberapa spesies menghasilkan suara ekstrem masih terbuka. Penelitian terhadap lebih banyak spesies di masa mendatang diharapkan dapat memberikan jawaban yang lebih lengkap.

