Olahraga

Menguatnya Ancaman Kepunahan terhadap Warisan Olahraga Tradisional Korea

Seoul, 18 Februari 2026 – Di tengah gelombang globalisasi budaya Korea yang mendunia melalui musik, drama, dan kuliner, sebuah aspek tradisi penting di tanah Korea justru menghadapi kenyataan pahit: olahraga-olahraga tradisional yang pernah menjadi kebanggaan kini semakin kehilangan perhatian publik, khususnya di kalangan generasi muda. Yang paling menonjol dari silang budaya ini adalah peperangan gulat tradisional Korea, ssireum, yang kini berjuang untuk mempertahankan eksistensinya di tengah dominasi olahraga modern seperti sepak bola, baseball, atau e-sports.

Selama ribuan tahun, berbagai bentuk atletik tradisional telah menjadi bagian integral dari kehidupan sosial masyarakat Korea, mencerminkan nilai budaya, kekuatan komunitas, hingga kebanggaan lokal. Namun, tren olahraga modern yang dipicu oleh komersialisasi, media global, dan perubahan gaya hidup telah menggeser minat generasi baru dari praktik-praktik ini. Dari sederet cabang tradisional yang ada, ssireum tampil sebagai simbol paling kuat dari dinamika perubahan tersebut.

Ssireum: Warisan Kuno yang Makin Terlupakan

Ssireum, yang sudah ada sejak dinasti Goguryeo lebih dari 1.500 tahun lalu, pernah menjadi olahraga populer yang dinantikan masyarakat pada musim panen atau perayaan tradisional besar seperti Chuseok. Acara ini dulunya melibatkan kerumunan penonton yang antusias menyaksikan dua pegulat saling beradu kekuatan di arena pasir, masing-masing memegang sabuk kain (satba) untuk menjatuhkan lawan. :contentReference[oaicite:2]index=2:contentReference[oaicite:3]index=3:contentReference[oaicite:2]{index=2}:contentReference[oaicite:3]{index=3}:contentReference[oaicite:2]index=2:contentReference[oaicite:3]index=3

Pertandingan ssireum saat itu bukan sekadar tontonan; mereka adalah ritual sosial yang mengikat komunitas dan dinanti oleh semua kalangan. Pemenang dalam kompetisi tradisional bahkan pernah diberikan hadiah simbolik seperti ternak, yang menandakan kehormatan dan kekuatan fisik para juara.

Namun realitas saat ini sangat berbeda. Ssireum semakin kehilangan pamor di Korea Selatan modern. Menurut foto-berita dari DetikSport, pada turnamen Tahun Baru Imlek terbaru, suasana pertandingan memperlihatkan kekosongan tribun dan minimnya perhatian publik meskipun olahraga tersebut dipentaskan di arena indoor, mempertahankan tradisi yang telah berlangsung ribuan tahun.

Regenerasi yang Minim dan Tantangan Modern

Salah satu faktor penyebab utama menurunnya eksistensi ssireum adalah kurangnya regenerasi atlet muda. Banyak sekolah kini tidak lagi memiliki tim ssireum karena murid lebih tertarik pada olahraga kontemporer atau aktivitas lain yang lebih populer. Ini merupakan fenomena yang juga diamati oleh praktisi seni beladiri tradisional, yang mengatakan bahwa tanpa murid baru, olahraga-olahraga klasik ini akan semakin mengalami kemunduran.

Lebih jauh lagi, dukungan finansial dan struktural lemah turut memperparah situasi. Sementara olahraga modern mendapat banyak sponsor, kontrak media, dan fasilitas profesional, ssireum tidak mendapatkan dukungan yang setara. Tidak ada sistem liga komersial yang kuat atau proteksi hak siar besar yang mampu mendongkrak popularitas olahraga ini, seperti halnya sepak bola atau baseball.

“Olahraga itu akan hilang dari pandangan publik jika orang tidak mengenal pegulat atau bahkan tidak tahu apa itu olahraga tersebut,” ujar seorang profesor pengembangan olahraga tradisional di universitas Seoul, menyoroti pentingnya pemasaran dan struktur dukungan agar tradisi ini bisa bertahan.

Selain Ssireum: Bentuk Olahraga Tradisional Lainnya

Ssireum bukan satu-satunya olahraga tradisional Korea yang kini menghadapi tekanan era modern. Ada beberapa cabang lain yang secara historis penting namun kini juga mengalami penurunan minat:

1. Taekkyeon – Bela Diri yang Elegan namun Terlupakan

Taekkyeon, bela diri Korea dengan gerakan halus dan ritmis, diberi pengakuan internasional melalui penetapannya di daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada 2011.

Taekkyeon berbeda dari seni bela diri modern seperti taekwondo, mengutamakan langkah kaki dan ritme dalam gerakan, serta teknik mengekang lawan tanpa kekerasan berlebihan. Pada masanya, taekkyeon menjadi bagian penting dari pelatihan fisik dan permainan rakyat, namun popularitasnya di kalangan generasi muda kini kurang signifikan dibandingkan olahraga kompetitif global.

2. Gukgung – Archery Tradisional Korea

Walaupun tidak sebesar ssireum, gukgung (berburu dengan busur tradisional Korea) merupakan bagian dari tradisi olahraga yang sudah ada sejak zaman Dinasti Goryeo dan Joseon. Bagaimanapun, minat masyarakat terhadap busur tradisional lebih banyak dijaga oleh komunitas khusus dan festival budaya, bukan sebagai aktivitas olahraga massal.

3. Permainan Ritual Kuno seperti Seokjeon

Seokjeon, sebuah permainan kuno yang melibatkan lemparan batu, dulu menjadi hiburan dan latihan fisik sekaligus ritual komunitas. Seiring waktu, bentuk seperti ini telah punah atau hanya dipertahankan dalam konteks festival sejarah, bukan sebagai olahraga kompetisi.

Budaya Pop Modern vs. Tradisi Atletik

Adaptasi budaya modern Korea yang sukses dalam industri musik, film, dan drama membawa citra global yang kuat. Namun olahraga tradisional tampaknya masih kalah dalam persaingan perhatian karena kurangnya dukungan media massa dan kurangnya kesiapan untuk mengemas ulang tradisi ke format yang menarik bagi generasi digital.

Sementara k-pop dan k-drama menjadi magnet global yang kuat, olahraga tradisional seperti ssireum dan taekkyeon membutuhkan strategi baru agar tetap relevan—mulai dari branding modern, kompetisi lintas negara, hingga pengembangan versi kontemporer yang tetap menghormati akar budaya. Ini bisa mencakup integrasi elemen tradisional ke dalam acara budaya populer atau liga yang lebih menarik untuk ditonton.

Upaya Pelestarian dan Masa Depan

Ada beberapa upaya yang kini tengah dijalankan untuk membangkitkan kembali minat terhadap olahraga tradisional. Klub-klub dan organisasi lokal mencoba menyelenggarakan kelas, lomba komunitas, hingga demonstrasi di festival budaya untuk menjangkau generasi yang lebih muda. Selain itu, dukungan lembaga warisan budaya dan UNESCO memberikan kepastian nilai sejarah dan estetika olahraga-olahraga ini sebagai bagian dari identitas Korea.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Dunia digital yang semakin mempercepat preferensi konsumen terhadap bentuk hiburan instan dan kompetisi global seperti e-sports membuat olahraga tradisional harus bekerja keras agar tetap relevan. Kesadaran masyarakat, dukungan pemerintah, dan strategi komunikasi yang kreatif akan menjadi kunci apakah warga Korea nantinya akan kembali bangga pada olahraga-olahraga kuno mereka.