EkonomiNasional

Kisah Etty, Istri Mar’ie Muhammad, Jual Nasi Bungkus Rp1.000 Usai Suami Tak Lagi Jadi Menkeu

Kisah istri Mar’ie Muhammad jual nasi bungkus kembali menarik perhatian. Ayu Resmiyati, yang akrab disapa Etty Mar’ie Muhammad, pernah membuka warung nasi murah untuk mahasiswa setelah sang suami tak lagi menjabat sebagai Menteri Keuangan. Di tengah tekanan ekonomi akibat krisis 1998, makanan lengkap itu dijual hanya Rp1.000 per bungkus.

Langkah Etty bukan sekadar aktivitas mencari penghasilan setelah suaminya meninggalkan pemerintahan. Catatan mengenai kegiatannya menunjukkan penjualan nasi murah tersebut merupakan bagian dari aktivitas sosial Yayasan Permata Sari untuk membantu mahasiswa yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi.

Mar’ie Muhammad sendiri merupakan Menteri Keuangan Indonesia periode 1993–1998 pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Sebelum menjadi menteri, ia pernah memimpin Direktorat Jenderal Pajak pada 1988–1993. Kementerian Keuangan mencatat Mar’ie hanya menjalani satu periode sebagai menteri sebelum posisinya kemudian diisi Fuad Bawazier pada pembentukan Kabinet Pembangunan VII.

Etty Jual Nasi Bungkus untuk Mahasiswa

Kegiatan sosial Etty melalui Yayasan Permata Sari semakin terasa ketika krisis ekonomi menghantam Indonesia pada 1998. Pada masa itu, banyak keluarga menghadapi lonjakan biaya hidup dan penurunan daya beli.

Catatan mengenai kiprah Etty menyebut warung nasi bungkus mulai dijalankan pada akhir 1998. Lokasinya berada di lingkungan kampus Universitas Indonesia (UI) di Depok serta Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta, yang kemudian menjadi Universitas Negeri Jakarta.

Nasi bungkus tersebut dijual setiap Jumat. Satu paket berisi nasi, ayam goreng, sayuran, dan air mineral dipatok seharga Rp1.000. Harga itu jauh lebih rendah dibandingkan harga makanan di warung pada masa tersebut yang disebut dapat mencapai sekitar Rp5.000.

Setiap hari penjualan, sekitar 150 bungkus makanan disediakan bagi mahasiswa. Tujuannya bukan mengejar keuntungan sebesar-besarnya, melainkan membuat makanan tetap dapat dijangkau oleh mahasiswa yang terkena dampak krisis.

Yayasan Permata Sari yang dipimpin Etty memang bergerak di bidang sosial dan pendidikan. Data pemerintah mengenai yayasan tersebut juga mencatat Ayu Resmiyati atau Etty Mar’ie Muhammad sebagai pimpinan Yayasan Permata Sari.

Indonesia Sedang Dihantam Krisis Ekonomi

Kegiatan menjual nasi murah tersebut berlangsung dalam situasi ekonomi yang sangat berbeda dengan kondisi normal. Krisis 1998 membawa tekanan besar terhadap masyarakat Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik menggambarkan skala tekanan tersebut. Perekonomian Indonesia yang pada 1997 masih tumbuh 4,7 persen berbalik mengalami kontraksi sekitar 13,1 persen pada 1998. Inflasi juga melonjak tajam ketika nilai rupiah mengalami pelemahan besar terhadap dolar AS.

Situasi itu menyebabkan harga barang kebutuhan sehari-hari meningkat dan kemampuan masyarakat untuk membeli kebutuhan dasar melemah. Mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang ikut merasakan dampaknya, terutama mereka yang hidup jauh dari keluarga dengan biaya hidup terbatas.

Dalam konteks inilah program nasi bungkus murah Etty memiliki tujuan sosial yang jelas. Harga Rp1.000 membuat mahasiswa memperoleh satu porsi makanan dengan biaya jauh di bawah harga umum pada masa tersebut.

Keluarga Mar’ie Juga Bagikan Makanan Gratis

Aktivitas membantu masyarakat ternyata tidak hanya dilakukan melalui warung nasi murah Etty. Setelah tidak lagi berada di pemerintahan, Mar’ie juga aktif dalam kegiatan kemanusiaan.

Ia terlibat dalam Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI), lembaga yang dibangun bersama sejumlah tokoh untuk memberikan bantuan langsung kepada masyarakat terdampak krisis. Kegiatan KKI antara lain diarahkan ke wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi dan pada berbagai program kemanusiaan.

Keluarga Mar’ie bahkan ikut menyiapkan nasi bungkus untuk masyarakat. Sejumlah catatan menyebut makanan tersebut dibagikan kepada mahasiswa yang melakukan aksi di kawasan Senayan serta masyarakat lain yang mengalami kesulitan ekonomi. Dalam kondisi tertentu, jumlah makanan yang disiapkan keluarga itu disebut dapat mencapai ratusan hingga mendekati seribu bungkus.

Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa penjualan nasi murah oleh Etty bukan tindakan yang berdiri sendiri. Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian aktivitas sosial keluarga Mar’ie setelah sang mantan menteri meninggalkan pemerintahan.

Mar’ie Muhammad Berkarier Panjang di Kementerian Keuangan

Sebelum meninggalkan pemerintahan pada 1998, Mar’ie telah menjalani perjalanan panjang sebagai birokrat.

Kementerian Keuangan mencatat Mar’ie pernah menjabat Direktur Jenderal Pajak pada periode 1988–1993. Setelah itu, Presiden Soeharto mengangkatnya menjadi Menteri Keuangan dan ia menjalankan jabatan tersebut pada 1993–1998.

Pergantian terjadi ketika Kabinet Pembangunan VII dibentuk. Fuad Bawazier dilantik menjadi Menteri Keuangan pada 16 Maret 1998. Masa kabinet itu sendiri berlangsung sangat singkat karena perubahan politik nasional setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri pada Mei 1998.

Setelah tak lagi menjadi menteri, Mar’ie tidak sepenuhnya meninggalkan kegiatan publik. Kementerian Keuangan mencatat ia kemudian aktif dalam berbagai lembaga sosial, termasuk Komite Kemanusiaan Indonesia dan Palang Merah Indonesia (PMI). Mar’ie memimpin PMI selama sekitar satu dekade, dari 1999 hingga 2009.

Aktivitas Sosial Etty Tidak Berhenti pada Nasi Bungkus

Kiprah Etty sendiri lebih luas daripada kegiatan menyediakan makanan murah.

Melalui Yayasan Permata Sari, ia terlibat dalam bidang sosial dan pendidikan. Data pemerintah mencantumkan yayasan tersebut menaungi lembaga pendidikan, sementara pemberitaan mengenai kehidupan Etty mencatat aktivitas sosial menjadi bagian penting dari kegiatannya selama bertahun-tahun.

Karena itu, kisah nasi bungkus Rp1.000 lebih tepat dipahami sebagai salah satu bentuk program sosial yang ia jalankan, bukan semata-mata kisah seorang istri mantan pejabat yang kemudian beralih profesi menjadi pedagang.

Konteks tersebut juga penting agar cerita mengenai kehidupan keluarga Mar’ie setelah 1998 tidak disederhanakan menjadi kisah perubahan status ekonomi akibat pergantian jabatan.

Etty menggunakan yayasan yang dikelolanya untuk menyediakan makanan terjangkau bagi mahasiswa pada periode ketika Indonesia menghadapi salah satu krisis ekonomi terberat dalam sejarah modernnya.

Nasi Rp1.000 Jadi Bagian dari Kisah Kemanusiaan Keluarga Mar’ie

Lebih dari dua dekade kemudian, kisah istri Mar’ie Muhammad jual nasi bungkus tetap menarik karena memperlihatkan sisi lain kehidupan keluarga mantan pejabat negara.

Etty memilih menyediakan makanan dengan harga sangat rendah bagi mahasiswa. Pada saat yang sama, Mar’ie terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan setelah mengakhiri tugasnya sebagai Menteri Keuangan.

Di tengah kontraksi ekonomi, inflasi tinggi, dan menurunnya kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar pada 1998, nasi bungkus seharga Rp1.000 tersebut memiliki konteks yang jauh lebih luas daripada sekadar aktivitas berdagang.

Program tersebut menjadi salah satu cara Yayasan Permata Sari membantu mahasiswa melewati masa sulit. Sementara bagi keluarga Mar’ie, kegiatan membantu masyarakat berlanjut dalam berbagai bentuk bahkan setelah jabatan di pemerintahan berakhir.

Kisah itu pada akhirnya bukan terutama tentang perubahan dari kehidupan pejabat menjadi penjual nasi. Fakta yang tersedia menunjukkan aktivitas tersebut lebih merupakan bagian dari kerja sosial Etty dan keluarganya pada saat masyarakat Indonesia sedang menghadapi tekanan ekonomi yang luar biasa.