EkonomiFinansial

Bank Indonesia Tak Lagi Bertumpu pada Suku Bunga untuk Menjaga Rupiah, Ini Alasannya

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mulai mengubah pendekatan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi. Jika sebelumnya kenaikan suku bunga acuan menjadi instrumen utama untuk meredam tekanan terhadap mata uang nasional, kini bank sentral lebih mengandalkan berbagai instrumen pasar keuangan dan insentif valas guna menarik aliran modal asing.

Perubahan strategi tersebut muncul setelah BI menilai bahwa pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan persoalan fundamental ekonomi domestik. Di saat yang sama, inflasi masih terkendali dan pertumbuhan ekonomi nasional dinilai tetap solid sehingga kenaikan suku bunga tambahan dianggap belum diperlukan.

Langkah ini menjadi sinyal bahwa Bank Indonesia kini berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi tanpa harus terus-menerus menggunakan instrumen suku bunga yang dapat berdampak pada aktivitas ekonomi domestik.

BI Pertahankan Suku Bunga Acuan

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Keputusan tersebut merupakan kali ketiga berturut-turut setelah sebelumnya bank sentral menahan suku bunga pada Juli dan Agustus 2026.

Sebelumnya, sepanjang awal 2026, BI telah menaikkan suku bunga acuan hingga 100 basis poin untuk merespons tekanan eksternal dan menjaga stabilitas rupiah. Namun setelah serangkaian kenaikan tersebut, otoritas moneter menilai tingkat suku bunga saat ini sudah cukup untuk mendukung stabilitas ekonomi dan pasar keuangan.

Bank Indonesia juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen. Kebijakan tersebut diambil dengan mempertimbangkan inflasi yang masih berada dalam sasaran serta kebutuhan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Pelemahan Rupiah Dinilai Berasal dari Faktor Eksternal

Salah satu alasan utama BI tidak lagi mengandalkan kenaikan suku bunga adalah karena tekanan terhadap rupiah dinilai berasal dari luar negeri.

Menurut Bank Indonesia, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), penguatan indeks dolar AS, serta ketidakpastian pasar keuangan global menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain itu, ketegangan geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter ketat dari bank sentral utama dunia juga meningkatkan tekanan terhadap arus modal di berbagai negara berkembang. Kondisi tersebut membuat investor global cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman.

BI menilai kondisi ekonomi Indonesia sendiri belum menunjukkan tanda-tanda overheating atau pemanasan berlebihan yang biasanya menjadi alasan kuat untuk menaikkan suku bunga.

Inflasi Masih Terkendali

Faktor lain yang membuat BI lebih berhati-hati menggunakan instrumen suku bunga adalah kondisi inflasi yang relatif terjaga.

Data menunjukkan inflasi inti Indonesia berada di kisaran 2,92 persen pada Agustus 2026, sementara inflasi keseluruhan masih berada dalam rentang target bank sentral sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Dengan inflasi yang masih terkendali, BI tidak memiliki urgensi untuk menaikkan suku bunga hanya demi menjaga nilai tukar rupiah.

Kenaikan suku bunga biasanya memang dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing. Namun di sisi lain, langkah tersebut juga berpotensi meningkatkan biaya kredit bagi dunia usaha dan masyarakat.

Karena itu, bank sentral memilih mencari instrumen lain yang lebih spesifik untuk mengatasi tekanan pada pasar valuta asing tanpa menimbulkan dampak besar terhadap aktivitas ekonomi dalam negeri.

Fokus pada Pasar Valuta Asing

Sebagai pengganti strategi berbasis suku bunga, BI kini memperkuat kebijakan melalui pasar valuta asing dan pasar uang.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah memberikan insentif berupa pengurangan biaya lindung nilai (hedging) bagi investor asing. Bank Indonesia menawarkan diskon premi swap hingga 25 persen untuk tenor penempatan dana hingga satu tahun. Selain itu, biaya transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) juga dipangkas hingga 30 persen.

Kebijakan ini bertujuan meningkatkan minat investor asing untuk menempatkan dana lebih lama di Indonesia sekaligus memperkuat stabilitas rupiah.

BI juga memperluas cakupan transaksi yang berhak memperoleh insentif tersebut, tidak hanya untuk investasi portofolio, tetapi juga pinjaman luar negeri perbankan dan investasi langsung asing.

Mendorong Aliran Modal Asing

Dalam beberapa bulan terakhir, BI semakin aktif menggunakan berbagai instrumen untuk menarik aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

Selain insentif hedging, bank sentral juga memperkuat instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), memperdalam pasar uang, serta memperluas penggunaan instrumen valuta asing. Langkah ini dilakukan agar investor memiliki lebih banyak pilihan dalam mengelola risiko sekaligus meningkatkan daya tarik aset Indonesia.

Bank Indonesia meyakini bahwa stabilitas nilai tukar tidak hanya bergantung pada tingkat suku bunga, tetapi juga pada ketersediaan likuiditas valas dan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.

Karena itu, kebijakan moneter saat ini lebih diarahkan pada penguatan infrastruktur pasar dan peningkatan efisiensi transaksi keuangan.

Rupiah dan Pasar Merespons Positif

Respons pasar terhadap strategi terbaru BI terlihat cukup positif.

Setelah keputusan mempertahankan BI Rate dan memperkuat insentif pasar valas diumumkan, rupiah tercatat menguat sekitar 0,37 persen terhadap dolar AS. Di saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami kenaikan yang menunjukkan respons positif dari pelaku pasar.

Meskipun demikian, BI tetap mengakui bahwa risiko global masih tinggi dan dapat memengaruhi pergerakan pasar keuangan Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.

Karena itu, bank sentral menegaskan akan terus memantau perkembangan ekonomi global dan siap menyesuaikan kebijakan apabila diperlukan.

Menjaga Stabilitas Tanpa Mengorbankan Pertumbuhan

Perubahan strategi Bank Indonesia menunjukkan adanya pendekatan yang lebih fleksibel dalam menghadapi dinamika ekonomi global.

Jika sebelumnya suku bunga menjadi senjata utama menjaga rupiah, kini BI berusaha memanfaatkan kombinasi instrumen pasar uang, pasar valuta asing, serta berbagai insentif investasi untuk mencapai tujuan yang sama.

Pendekatan tersebut dinilai lebih sesuai dengan kondisi saat ini, ketika tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor eksternal sementara inflasi dan pertumbuhan ekonomi domestik masih berada dalam kondisi yang relatif baik.

Ke depan, keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada kemampuan BI menjaga kepercayaan investor, memperdalam pasar keuangan domestik, serta mengelola dampak ketidakpastian global yang masih membayangi perekonomian dunia.