Makanan

Industri Makanan dan Minuman RI Diprediksi Tumbuh 8 Persen

Industri makanan dan minuman Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh positif pada 2026. Sektor ini diperkirakan mencatat pertumbuhan di kisaran 7–8 persen, seiring pasar domestik yang terus membesar dan konsumsi masyarakat yang masih menjadi penopang utama bisnis kuliner.

Meski prospeknya kuat, pelaku usaha makanan dan minuman tidak otomatis berada di posisi aman. Tantangan utama justru muncul dari persaingan pasar yang semakin ketat, kebutuhan menemukan kanal ekspansi yang tepat, serta tuntutan kolaborasi bisnis yang lebih terarah.

Kondisi itu membuat pelaku usaha tidak cukup hanya mengandalkan produk yang bagus. Mereka juga perlu membangun jaringan distribusi, membaca tren konsumen, memperkuat merek, dan menjangkau pembeli yang tepat agar bisa bertahan dalam kompetisi.

Industri Makanan dan Minuman Masih Punya Ruang Tumbuh

Sektor makanan dan minuman selama ini menjadi salah satu tulang punggung konsumsi masyarakat. Produk makanan, minuman, bahan baku, kafe, restoran, hingga layanan pendukung kuliner terus berkembang mengikuti perubahan gaya hidup.

Pertumbuhan 7–8 persen pada 2026 memberi sinyal bahwa pasar F&B Indonesia masih menarik. Namun, peluang besar itu juga menarik lebih banyak pemain baru, baik dari skala UMKM maupun perusahaan besar.

Persaingan tidak lagi hanya terjadi pada rasa dan harga. Pelaku usaha juga bersaing dalam kemasan, pengalaman pelanggan, layanan digital, kecepatan distribusi, konsep gerai, dan kemampuan membaca tren.

Di pasar yang padat, brand yang tidak punya pembeda akan lebih mudah tenggelam. Konsumen kini memiliki banyak pilihan, sementara biaya promosi dan akuisisi pelanggan makin menantang.

Karena itu, ekspansi bisnis perlu dilakukan secara lebih presisi. Pelaku usaha harus tahu kanal mana yang paling efektif, apakah melalui ritel modern, marketplace, food service, kemitraan restoran, distributor, atau pameran bisnis.

Ajang seperti Café & Brasserie Expo atau CBE 2026 kemudian diposisikan sebagai salah satu ruang pertemuan antara pelaku usaha, pemasok, pembeli, dan pengambil keputusan di sektor F&B. Pameran tersebut dibuka di JIExpo Kemayoran, Jakarta, dan berlangsung hingga 10 Mei 2026.

CBE 2026 Jadi Ruang Kolaborasi Pelaku F&B

CBE 2026 hadir dengan konsep “Taste Circle” yang mengedepankan kolaborasi lintas sektor industri makanan dan minuman. Konsep ini diarahkan untuk mempertemukan brand, buyer, supplier, dan pelaku rantai pasok dalam satu ekosistem bisnis.

Pameran seperti ini penting karena industri kuliner tidak berdiri sendiri. Di balik satu produk makanan, ada rantai panjang yang melibatkan bahan baku, pengolahan, kemasan, logistik, peralatan dapur, teknologi, pemasaran, dan kanal distribusi.

Bagi pelaku UMKM, pertemuan langsung dengan calon mitra dapat membuka peluang ekspansi yang lebih konkret. Mereka bisa memamerkan produk, mencari distributor, menjajaki kerja sama dengan restoran, atau bertemu pembeli dalam skala lebih besar.

Bagi perusahaan besar, pameran menjadi tempat membaca arah pasar. Mereka dapat melihat produk baru, tren rasa, inovasi kemasan, teknologi pengolahan, dan preferensi konsumen yang sedang berkembang.

Model kolaborasi seperti ini semakin dibutuhkan karena kompetisi F&B bergerak cepat. Produk yang viral hari ini belum tentu bertahan lama jika tidak didukung distribusi dan strategi bisnis yang kuat.

Selain itu, konsumen Indonesia makin terbuka terhadap kategori baru. Kopi, teh, makanan siap saji, produk beku, bakery, makanan sehat, makanan halal, hingga kuliner berbasis pengalaman terus memiliki ruang pertumbuhan masing-masing.

Tantangan Bahan Baku dan Rantai Pasok Belum Selesai

Meski pasar makanan dan minuman terus tumbuh, tantangan dari sisi produksi tetap harus diperhatikan. Salah satu persoalan yang kerap muncul adalah ketergantungan terhadap bahan baku impor di sejumlah segmen.

Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman sebelumnya menyebut bahan baku menjadi salah satu tantangan industri mamin karena sektor hulu dalam negeri belum bergerak secepat kebutuhan industri hilir. Ia juga menyinggung tekanan global seperti geopolitik, fluktuasi harga komoditas, dan gangguan rantai pasok internasional.

Situasi tersebut membuat pelaku usaha harus mengelola biaya dengan hati-hati. Kenaikan harga bahan baku dapat menekan margin, terutama bagi usaha kecil yang tidak punya ruang besar untuk menaikkan harga jual.

Di sisi lain, konsumen tetap sensitif terhadap harga. Produk makanan dan minuman memang termasuk kebutuhan rutin, tetapi daya beli tetap menentukan seberapa jauh konsumen mau membayar lebih untuk kualitas, kemasan, atau pengalaman.

Bagi pelaku usaha, efisiensi menjadi kunci. Mereka perlu memperbaiki proses produksi, mencari pemasok yang stabil, mengurangi pemborosan, dan menjaga kualitas agar tidak kalah dari kompetitor.

Penguatan sektor hulu juga penting. Jika pasokan bahan baku domestik lebih kuat, industri makanan dan minuman dapat mengurangi risiko akibat gejolak harga global.

Tren Konsumen Dorong Inovasi Produk

Pertumbuhan industri F&B tidak hanya didorong kebutuhan dasar. Perubahan gaya hidup ikut mendorong lahirnya produk baru, mulai dari makanan sehat, minuman fungsional, makanan praktis, hingga produk premium berbasis bahan lokal.

Konsumen kini lebih mudah membandingkan produk melalui media sosial dan platform digital. Rekomendasi influencer, ulasan pelanggan, hingga visual kemasan dapat memengaruhi keputusan membeli.

Hal ini memberi peluang besar bagi brand baru, tetapi juga membuat umur tren menjadi lebih pendek. Produk yang ingin bertahan harus punya kualitas konsisten, cerita merek yang kuat, serta akses distribusi yang jelas.

Pelaku usaha juga perlu memahami bahwa pasar Indonesia tidak tunggal. Selera konsumen di kota besar bisa berbeda dengan daerah lain. Segmentasi harga, ukuran kemasan, rasa, dan kanal penjualan perlu disesuaikan.

Dalam konteks ini, pameran dan forum bisnis dapat membantu pelaku usaha membaca kebutuhan pasar. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga menguji respons buyer, melihat kompetitor, dan mencari inspirasi inovasi.

Teknologi digital juga menjadi bagian penting. Pemesanan online, sistem kasir digital, analitik penjualan, pembayaran nontunai, dan pemasaran berbasis data dapat membantu bisnis kuliner tumbuh lebih terukur.

Peluang Besar, Strategi Harus Lebih Tajam

Prospek industri makanan dan minuman pada 2026 tetap menjanjikan. Proyeksi pertumbuhan 7–8 persen menunjukkan sektor ini masih memiliki daya tarik besar bagi pelaku usaha dan investor.

Namun, peluang tersebut datang bersama tantangan yang tidak ringan. Persaingan ketat, perubahan perilaku konsumen, biaya bahan baku, distribusi, dan kebutuhan ekspansi membuat pelaku usaha harus lebih selektif mengambil keputusan.

Brand yang hanya mengandalkan tren sesaat akan lebih rentan. Sebaliknya, pelaku usaha yang mampu menjaga kualitas, membangun jaringan, memahami pasar, dan berkolaborasi dengan mitra tepat punya peluang lebih besar untuk bertahan.

CBE 2026 dan forum bisnis sejenis dapat menjadi ruang penting bagi pelaku F&B untuk memperluas koneksi. Tetapi setelah pameran selesai, keberhasilan tetap ditentukan oleh eksekusi bisnis di lapangan.

Ke depan, perkembangan industri makanan dan minuman Indonesia perlu dipantau dari sisi pertumbuhan pasar, ketersediaan bahan baku, daya beli konsumen, serta kemampuan pelaku usaha menembus kanal distribusi yang lebih luas. Jika tantangan itu dijawab dengan strategi tepat, sektor F&B masih berpeluang menjadi salah satu penggerak utama ekonomi domestik.