Breaking NewsPolitik

Siapa Mojtaba Khamenei? Sosok Penerus Ayatollah Khamenei yang Ditakuti AS dan Israel

BeritaSekarang.id – Nama Mojtaba Khamenei mendadak menjadi sorotan dunia setelah ia disebut sebagai penerus kepemimpinan Iran menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Sosok ini dikenal sebagai figur keras yang memiliki pengaruh besar di balik layar politik Iran.

Bagi Amerika Serikat dan Israel, Mojtaba bukan sekadar tokoh agama biasa. Ia dianggap sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam lingkaran kekuasaan Iran dan berpotensi melanjutkan garis kebijakan konfrontatif terhadap Barat.

Profil Mojtaba Khamenei

Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, Iran. Ia merupakan putra kedua dari pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei. Sejak muda, Mojtaba sudah berada di lingkungan elite politik dan keagamaan Iran.

Ia menempuh pendidikan teologi di seminari Qom, salah satu pusat pendidikan agama Syiah paling berpengaruh di Iran. Selain itu, Mojtaba juga pernah terlibat dalam jaringan militer Iran saat konflik Iran-Irak pada 1980-an, yang memperkuat reputasinya di kalangan kelompok revolusioner.

Meski jarang tampil di depan publik, pengaruh Mojtaba di dalam sistem kekuasaan Iran sangat besar. Banyak analis menilai ia memiliki kendali kuat dalam pengambilan keputusan penting, terutama melalui hubungan dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran.

Pengaruh Besar di Balik Layar Kekuasaan Iran

Berbeda dengan tokoh politik lain yang aktif tampil di ruang publik, Mojtaba Khamenei justru dikenal sebagai pemain kunci di balik layar.

Selama bertahun-tahun, ia disebut berperan dalam:

  • Mengelola jaringan politik di sekitar kantor pemimpin tertinggi Iran
  • Membangun hubungan kuat dengan Garda Revolusi Iran
  • Mempengaruhi dinamika politik dalam negeri Iran

Banyak analis bahkan menilai bahwa Mojtaba telah lama mempersiapkan diri untuk mengambil alih kepemimpinan negara jika suatu saat ayahnya tidak lagi berkuasa.

Mengapa Mojtaba Khamenei Ditakuti AS dan Israel?

Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel bukanlah hal baru. Namun, nama Mojtaba Khamenei menambah kekhawatiran baru bagi kedua negara tersebut.

Beberapa alasan utama mengapa Mojtaba dianggap berbahaya oleh Barat antara lain:

1. Kedekatan dengan Garda Revolusi Iran

Garda Revolusi Iran merupakan kekuatan militer elit yang memiliki pengaruh besar dalam kebijakan keamanan Iran. Mojtaba dikenal memiliki hubungan sangat erat dengan organisasi ini.

2. Pandangan Politik yang Sangat Keras

Mojtaba dikenal memiliki pandangan politik yang sangat tegas terhadap Barat. Beberapa analis bahkan menilai ia termasuk dalam kelompok garis keras dalam politik Iran.

3. Potensi Kebijakan Nuklir yang Lebih Agresif

Sejumlah analis Barat menilai Mojtaba kemungkinan mendukung percepatan program nuklir Iran untuk memperkuat posisi strategis negara tersebut di kawasan Timur Tengah.

Faktor-faktor inilah yang membuat Washington dan Tel Aviv memandang kemunculan Mojtaba sebagai ancaman serius terhadap keseimbangan geopolitik di kawasan.

Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Iran

Setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara pada 28 Februari 2026, Majelis Ahli Iran akhirnya memilih Mojtaba sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru pada 8 Maret 2026.

Penunjukan ini sekaligus menjadikannya pemimpin tertinggi ketiga dalam sejarah Republik Islam Iran.

Namun keputusan tersebut juga memicu kontroversi karena dianggap menyerupai sistem suksesi dinasti, sesuatu yang sebelumnya tidak lazim dalam sistem politik Iran.


Kesimpulan

Mojtaba Khamenei bukan sekadar putra dari pemimpin tertinggi Iran sebelumnya. Ia adalah figur berpengaruh yang telah lama memainkan peran penting dalam lingkaran kekuasaan negara tersebut.

Dengan jaringan kuat di kalangan ulama dan Garda Revolusi Iran, Mojtaba memiliki modal politik besar untuk mempertahankan bahkan memperkuat garis kebijakan keras Iran terhadap Barat.

Bagi Amerika Serikat dan Israel, kemunculan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru Iran menandai babak baru ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kepemimpinannya diperkirakan akan menentukan arah kebijakan Iran dalam konflik regional, program nuklir, serta hubungan dengan negara-negara Barat di masa depan.