GlobalPolitik

NATO Menilai Rezim Iran Tinggal Menunggu Waktu

Jerman, salah satu negara kunci dalam aliansi NATO, secara terbuka menyatakan bahwa rezim Ayatollah Ali Khamenei yang berkuasa di Iran berada di ujung tanduk. Berlin menilai keberlangsungan rezim Teheran kini tinggal menghitung hari, seiring tekanan internasional yang kian meningkat dan instabilitas internal yang terus membesar.

  • Trump berikan Peringatan Serius

Pernyataan keras ini muncul di tengah memanasnya situasi kawasan, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman intervensi militer terhadap Iran. Ancaman tersebut diklaim sebagai respons atas tindakan keras pemerintah Iran dalam menekan gelombang protes domestik yang meluas di berbagai wilayah negara itu.

  • Jerman Lontarkan Ancaman

Sikap Jerman disampaikan langsung oleh Kanselir Friedrich Merz dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Rumania, Ilie Bolojan, pada Rabu. Dalam kesempatan tersebut, Merz menegaskan bahwa komunitas internasional tidak bisa lagi menutup mata terhadap kebijakan represif Teheran dan dampaknya terhadap stabilitas regional maupun global.

“Sebuah rezim yang hanya dapat mempertahankan kekuasaan melalui kekerasan dan teror terhadap penduduknya sendiri: hari-harinya sudah dihitung,” kata Merz.

“Mungkin hanya beberapa minggu lagi, tetapi rezim ini tidak memiliki legitimasi untuk memerintah negara ini,” imbuh Merz.

“Jumlah korban tewas yang dilaporkan mencapai ribuan selama demonstrasi baru-baru ini menunjukkan bahwa rezim ulama tampaknya hanya dapat mempertahankan kekuasaan melalui teror semata,” lanjut Merz, seperti dikutip dari AFP, Kamis (29/1/2026).

  • Aktivis HAM Amerika Verifikasi Korban

alah satu organisasi hak asasi manusia, Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat, melaporkan telah memverifikasi sedikitnya 6.200 kematian dalam gelombang demonstrasi yang mengguncang kepemimpinan ulama Iran. Mayoritas korban disebut merupakan demonstran yang tewas akibat tindakan represif pasukan keamanan. Unjuk rasa tersebut pecah sejak akhir Desember dan mencapai titik paling mematikan pada 8–9 Januari.

Para aktivis HAM menegaskan bahwa angka tersebut kemungkinan besar belum mencerminkan jumlah korban sebenarnya. Pemerintah Iran dituding masih memberlakukan pemadaman internet dan pembatasan informasi, yang secara signifikan menghambat upaya verifikasi lapangan serta menutupi skala kekerasan yang sesungguhnya terjadi.

Merz juga mendukung upaya Italia untuk meminta Uni Eropa menetapkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran sebagai organisasi teroris. “Saya sangat menyesal bahwa masih ada satu atau dua negara di Uni Eropa yang belum siap” untuk mendukung penetapan tersebut, kata Merz.

  • Trump Desak Iran Segera Tunduk

Pada hari yang sama, Trump mengancam Teheran dengan serangan yang jauh lebih buruk daripada serangan terhadap tiga fasilitas nuklirnya pada Juni tahun lalu. Dalam sebuah unggahan di Truth Social.

Trump mendesak Teheran untuk membuat kesepakatan tentang masa depan program nuklir iran. “Atau serangan berikutnya akan jauh lebih buruk,” lanjut Trump.

  • Iran Respon Nato

Gharibabadi menyatakan bahwa respon Iran dapat menargetkan pangkalan-pangkalan AS diwilayah kawasan timur tengah dan memperingatkan Israel juga dapat merasakan dampak kerugiannya.

“Iran tidak sedang bernegosiasi dengan AS, dan prioritas utamanya adalah siap 200 persen untuk membela diri,” imbuh dia.

Misi tetap Iran untuk PBB lebih eksplosit dalam meresponnya, “terakhir kali AS melakukan kesalahan dengan berperang di Afghanistan dan Irak, mereka menghamburkan lebih dari USD 7 triliun dan kehilangan lebih dari 7.000 nyawa wwarga amerika sendiri,” tulis misi tersebut dalam sebuah unggahan di X.

  • Iran Siap Berdialoh Jika Saling Hormat

“Iran siap untuk dialoh berdasarkan rasa saling menghormati dan kepentingan bersama tetapi jika dipaksa, mereka akan membela diri dan merespon seperti belum pernah terjadi sebelumnya. lanjut unggahan tersebut, meniru gaya bahasa media sosial khas Trump.

Kapal induk USS Abraham Lincoln tiba di Timur Tengah minggu ini, didampingi oleh tiga kapal perusak yang dipersenjatai dengan rudal jelajah Tomahawk. Selain jet tempur siluman F-35C dan F/A-18 yang dibawa oleh USS Abraham Lincoln, AS juga memindahkan jet tempur F-15E Strike Eagle, baterai rudal Patriot, dan sistem pertahanan udara THAAD ke wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Iran telah berulang kali memperingatkan Trump agar tidak melakukan “kesalahan perhitungan apa pun”. Pada akhir pekan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa mereka “lebih siap dari sebelumnya, siap menembak” untuk membela negara, dan menjanjikan konsekuensi menyakitkan bagi setiap agresi dari AS atau Israel

  • Kesimpulan

Pernyataan keras Jerman sebagai bagian dari NATO, ancaman terbuka Presiden Amerika Serikat Donald Trump, serta laporan korban jiwa dari organisasi hak asasi manusia menegaskan bahwa rezim Iran tengah menghadapi tekanan paling serius dalam beberapa dekade terakhir. Gelombang protes berdarah di dalam negeri, isolasi diplomatik yang semakin menguat, dan meningkatnya kesiapan militer Amerika Serikat di kawasan mempersempit ruang gerak Teheran.