Belum Sempat Menyantap MBG, Pelajar SMKN 3 Gowa Dikejutkan Ulat Hidup di Rantang
GOWA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan di SMKN 3 Gowa, Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, menjadi perhatian publik setelah seorang pelajar menemukan ulat hidup di dalam rantang makanan yang diterimanya.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin, 2 Februari 2026, saat para siswa bersiap menyantap menu MBG yang dibagikan di lingkungan sekolah. Kejadian tak terduga itu terungkap ketika seorang siswa membuka rantang makanannya dan mendapati benda bergerak mencurigakan di antara hidangan yang disajikan.
Setelah diperiksa lebih dekat, benda tersebut diketahui merupakan seekor ulat hidup, sehingga memicu kehebohan di kalangan siswa. Temuan itu pun segera dilaporkan kepada pihak sekolah sebagai bentuk kehati-hatian dan kepedulian terhadap kualitas makanan yang dikonsumsi.
Siswa yang menemukan ulat tersebut kemudian menyampaikan laporannya kepada wali kelas melalui grup WhatsApp kelas, yang selama ini digunakan sebagai sarana komunikasi resmi antara siswa dan guru.
Wali Kelas XI SMKN 3 Gowa, Awaludin Abidin, membenarkan adanya laporan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa informasi pertama diterimanya langsung dari seorang siswa yang mengirimkan pesan disertai penjelasan di grup WhatsApp kelas.
“Laporan awal kami terima dari siswa yang menemukan langsung di rantang makanan,” ujar Awaludin, membenarkan insiden tersebut.
Kejadian ini pun menjadi bahan evaluasi penting bagi pihak sekolah dan pengelola program MBG, guna memastikan kebersihan serta keamanan makanan yang disalurkan kepada para pelajar tetap terjaga.
“Awalnya ada siswa yang melapor di grup WhatsApp. Dia buka rantangnya, ternyata menemukan satu ekor ulat, lalu saya sampaikan ke kepala sekolah,” kata Awaludin.
Awaludin menyebut, kondisi ulat yang ditemukan tersebut masih hidup saat pertama kali terlihat di dalam rantang.
“Iya, ulatnya masih hidup. Setelah dibersihkan, siswa tersebut tetap melanjutkan makanannya,” jelasnya.
Selama ini, kata dia, pihak sekolah rutin melakukan pengecekan makanan sebelum dibagikan kepada siswa.
“Biasanya kita tes dan buka dulu sebelum dibagikan. Guru juga ikut konsumsi,” imbuhnya.
Menurutnya, kejadian serupa belum pernah terjadi sejak program MBG mulai berjalan di sekolah tersebut. “Baru pertama kali ada kejadian seperti ini. Program MBG ini baru berjalan sekitar dua bulan,” ungkapnya.
“Baru pertama kali ada kejadian seperti ini. Program MBG ini baru berjalan sekitar dua bulan,” ungkapnya.
Setelah kejadian tersebut, pihak sekolah segera menyampaikan laporan resmi kepada kepala sekolah sebagai langkah tindak lanjut.
Laporan tersebut kemudian diteruskan kepada pihak pengelola MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk dievaluasi.
“Sudah saya serahkan ke kepala sekolah dan diteruskan ke pihak pengelola MBG,” ungkapnya.
Awaludin memastikan bahwa siswa yang menemukan ulat tersebut tidak mengalami gangguan kesehatan setelah kejadian berlangsung.
“Kondisi anaknya sehat, tidak ada keluhan. Dia siswa kelas XI,” katanya.
Sementara itu, Kepala SPPG Bonto-Bontoa, Fadli, turut membenarkan adanya laporan temuan ulat dalam menu MBG yang disalurkan ke SMKN 3 Gowa.
Ia menyebutkan, kejadian tersebut menjadi perhatian serius pihaknya dalam upaya menjaga kualitas makanan.
“Tindakan kami tentu lebih waspada lagi. Proses sterilisasi sebenarnya sudah kami lakukan sesuai juknis dari BGN,” ujarnya.
Fadli menjelaskan, sebelum makanan didistribusikan, pihaknya rutin melakukan uji organoleptik terhadap seluruh menu.
“Kami sudah cek dan test organoleptik, kondisinya baik. Tapi dengan kejadian ini, pengawasan harus lebih diperkuat,” jelas Fadli.
Terkait asal ulat, Fadli menduga sumbernya kemungkinan berasal dari buah yang disajikan pada menu hari tersebut.
“Kecurigaan kami dari buah. Ini hari memang menggunakan buah rambutan, kemungkinan ulat berasal dari situ,” katanya.
Pasca kejadian tersebut, pihak SPPG menyatakan akan memperketat seluruh tahapan proses penyediaan makanan MBG.
“Mulai dari pembersihan bahan, proses memasak, sampai distribusi. Ompreng atau rantang harus dicek betul-betul,” tegasnya.
Katanya, setiap makanan yang telah selesai dimasak akan melalui proses pengecekan ulang sebelum didistribusikan.
“Setelah makanan jadi, dilakukan pengecekan kebersihan dan ketelitian terhadap bahan dan makanan sebelum disalurkan,” ujarnya.
Menu MBG pada hari kejadian tersebut terdiri dari chicken katsu, sayuran salad, serta buah rambutan sebagai pelengkap.
“Menu kami berubah-ubah setiap hari agar bervariasi, kadang juga berdasarkan masukan guru dan siswa,” katanya.
Saat ini, SPPG Bonto-Bontoa menyuplai program MBG ke empat sekolah di wilayah Kabupaten Gowa. Sekolah tersebut meliputi SMKN 3 Somba Opu, SMA Negeri 1 Gowa, TK Akhlakul Karima, dan TK Siman Petrus.
Total penerima manfaat MBG dari empat sekolah yang dilayani SPPG Bonto-Bontoa mencapai 3.122 orang.
Fadli menegaskan bahwa temuan ulat ini merupakan kejadian pertama sejak SPPG mulai beroperasi.
“Kami mulai operasional 24 November. Ini baru pertama kali ditemukan kejadian seperti ini,” jelasnya.
Jumlah penerima manfaat MBG di SMKN 3 Gowa sendiri mencapai ribuan siswa dan tenaga pendidik.
“Penerima manfaat di SMK 3 Gowa untuk siswa ada 1.701 orang dan kalau ditotal sama guru 1.130 orang,” tutupnya.
- Kesimpulan
Temuan ulat hidup dalam menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 3 Gowa menjadi peringatan penting bagi seluruh pihak terkait untuk memperkuat pengawasan kualitas dan kebersihan makanan. Meski insiden tersebut merupakan kejadian pertama sejak program berjalan dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan pada siswa, peristiwa ini menunjukkan bahwa celah dalam proses penyediaan makanan tetap bisa terjadi.
Pihak sekolah dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah merespons cepat dengan melakukan pelaporan, evaluasi, serta komitmen memperketat seluruh tahapan, mulai dari pemilihan bahan baku hingga distribusi makanan. Langkah ini diharapkan mampu menjaga kepercayaan siswa dan orang tua, sekaligus memastikan tujuan utama program MBG—menyediakan makanan sehat, aman, dan bergizi bagi ribuan penerima manfaat—dapat terus terlaksana secara optimal.

