5 Makanan yang Dipercaya Membawa Hoki dan Kemakmuran Saat Perayaan Imlek
JAKARTA — Perayaan Imlek atau Lunar New Year bukan sekadar momen berkumpul bersama keluarga, tetapi juga saat untuk berharap akan keberuntungan, rezeki, dan berkah sepanjang tahun. Salah satu bentuk tradisi yang tak pernah terlewat adalah hidangan khusus yang disajikan saat berkumpul bersama orang-orang terdekat. Setiap makanan memiliki makna simbolis yang dalam, dan dipercaya dapat membawa hoki, kemakmuran, kesehatan, dan kebahagiaan di tahun yang baru.
Simbolisme kuliner ini bersumber dari sejarah panjang budaya Tionghoa, di mana makanan bukan sekadar nutrisi tetapi juga doa dalam bentuk fisik untuk masa depan yang lebih baik. Berikut ini adalah lima makanan yang paling umum disajikan dan dipercaya membawa keberuntungan saat Imlek.
1. Pangsit (Dumpling): Simbol Kekayaan dan Keberuntungan
Salah satu hidangan yang paling dikenal dalam tradisi Imlek adalah pangsit atau dumpling. Bentuk pangsit yang menyerupai ingot emas tradisional Tiongkok menjadikannya simbol kekayaan dan keberuntungan finansial.
Dalam banyak keluarga, pembuatan pangsit dilakukan secara bersama-sama sebagai ritual sebelum malam perayaan. Aktivitas ini bukan hanya mempererat hubungan keluarga, tetapi juga mencerminkan harapan agar kekayaan semakin bertambah di tahun yang baru. Rasa pangsit yang lezat dan anggapan mengenai kemakmuran membuatnya menjadi hidangan yang wajib ada di meja makan saat acara reuni keluarga.
Selain itu, beberapa keluarga memiliki tradisi menyembunyikan koin kecil di dalam pangsit. Siapa pun yang menemukan koin tersebut dipercaya akan mendapatkan keberuntungan ekstra sepanjang tahun, terutama dalam urusan rezeki dan peluang hidup.
2. Ikan Utuh: Melambangkan Kelimpahan Sepanjang Tahun
Hidangan ikan utuh merupakan sajian penting lain pada malam reunion dinner. Dalam budaya Tionghoa, kata “ikan” (yú) memiliki bunyi mirip dengan kata “kelebihan atau surplus”, sehingga selalu dihadirkan dalam pesta Imlek sebagai simbol kekayaan yang terus berlanjut.
Tidak sekadar memilih ikan, cara penyajian ikan utuh pun sarat makna. Ikan biasanya dihidangkan lengkap dengan kepala dan ekor — simbol awal dan akhir yang baik dalam setiap aspek kehidupan keluarga. Tidak makan seluruh ikan pun terkadang dipraktikkan agar selalu ada sisa, yang menurut kepercayaan berarti rezeki akan terus berlebih dari tahun ke tahun.
Kepercayaan ini menguatkan pentingnya rasa syukur dan harapan akan segala bentuk keberlimpahan, baik secara materi maupun hubungan interpersonal yang sehat dan harmonis.
3. Mi Panjang Umur: Wujud Harapan untuk Umur Panjang
Tidak hanya kaya dan makmur, panjang umur adalah salah satu doa yang paling umum diharapkan dalam tradisi Imlek. Hal ini tercermin dari hidangan mi panjang umur (longevity noodles), mi yang sengaja disajikan tanpa dipotong — melambangkan kehidupan yang panjang serta keberuntungan yang tak terputus.
Tradisi ini tidak hanya dijumpai di satu daerah saja, karena berbagai versi mi panjang umur muncul dalam keragaman kuliner Tionghoa. Dari mi telur hingga mi gandum utuh, panjang dan tak terputusnya mi diyakini mewakili harapan panjangnya kebahagiaan dan nasib baik keluarga di sepanjang tahun.
4. Permen dan Nian Gao: Manisnya Kehidupan Baru
Hidangan manis juga memiliki tempat khusus dalam perayaan Imlek. Permen, kue keranjang (nian gao), dan berbagai panganan manis lainnya melambangkan tahun yang penuh kegembiraan, harmoni dan rasa manis kehidupan.
Kue keranjang (nian gao) secara khusus dipercaya membawa arti “tahun yang lebih tinggi” atau prosperity every year, karena bunyi namanya yang mirip dengan makna “lebih tinggi” dalam bahasa Mandarin. Tradisi memakan kue ini diyakini membawa pertumbuhan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari karier, pendidikan, hingga hubungan sosial.
Selain itu, piring permen khas Imlek yang sering disajikan dalam nampan dengan berbagai macam jenis buah dan manisan tidak hanya mempercantik meja makan, tetapi juga menjadi simbol “memulai tahun baru dengan manis”.
5. Jeruk dan Buah Citrus: Keberuntungan dan Kemakmuran
Buah citrus, terutama jeruk mandarin dan jeruk tangerine, memiliki peran besar dalam tradisi Imlek sebagai simbol kemakmuran, rezeki, dan energi positif. Warna cerahnya yang keemasan menyerupai emas dan makna fonetik dalam bahasa Mandarin yang berkaitan dengan “kemakmuran” membuat buah ini sangat populer saat perayaan berkumpul keluarga.
Buah-buah ini sering diletakkan di meja makan atau bahkan diberikan sebagai hadiah kepada tamu yang datang, sebagai wujud harapan agar tahun baru dipenuhi dengan kedamaian, kesehatan, dan rezeki yang melimpah.
Beberapa keluarga bahkan meletakkan jeruk di sudut rumah sebagai dekorasi imlek karena dipercayai dapat membawa energi baik dan keberuntungan dalam keseharian.
Makna Simbolis Makanan dalam Tradisi Imlek
Tradisi kuliner Imlek tak hanya mengenai rasa atau komponennya saja — tetapi lebih kepada makna di balik setiap sajian. Dalam budaya Tionghoa, makanan merupakan medium doa dan doa itu kemudian diekspresikan pada saat keluarga berkumpul, berbagi, dan berharap akan masa depan yang lebih baik.
Secara historis, makanan penuh simbol ini berkembang dari tradisi agraris kuno di mana panen yang baik dan makanan berlimpah dianggap sebagai pertanda kesejahteraan dan doa yang terkabul. Seiring berjalannya waktu, makna ini terus diturunkan ke generasi berikutnya sebagai bagian dari nilai budaya yang kaya dan penuh filosofi.
Kesimpulan
Perayaan Imlek adalah momen lebih dari sekadar pesta dan libur nasional. Melalui makanan yang disajikan, keluarga menyampaikan harapan, doa dan simbolisme yang kaya akan makna. Pangsit mewakili kekayaan, ikan utuh melambangkan kelimpahan, mi panjang umur memastikan kesehatan dan umur panjang, makanan manis seperti kue keranjang mengundang manisnya tahun baru, sementara jeruk mengundang kemakmuran dan rezeki.
Memahami makna di balik setiap sajian bisa memperkaya perayaan Imlek Anda dan keluarga, serta memperkuat pesan kebersamaan serta harapan terbaik untuk masa depan.

