BeritaGlobalKesehatanMakananOlahragaPengetahuan umumViral

Benarkah Orang Gemuk Lebih Rentan Kena Serangan Jantung? Ini Penjelasan Dokter dan Data Medis

JAKARTA — Banyak masyarakat percaya bahwa orang yang memiliki berat badan berlebih atau gemuk memiliki risiko lebih tinggi mengalami serangan jantung dibanding mereka yang memiliki berat badan sehat. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru, namun menurut pakar medis hubungan antara kegemukan dan serangan jantung melibatkan berbagai faktor risiko yang kompleks dan beragam.

Menanggapi pertanyaan tersebut, dr. Yislam Aljaidi, SpJP, FIHA, spesialis jantung dan pembuluh darah, menyatakan bahwa respon tubuh setiap orang berbeda-beda terhadap faktor risiko penyakit jantung. Tidak semua orang gemuk pasti terkena serangan jantung, dan orang dengan berat badan normal pun dapat mengalami kondisi ini jika faktor lain turut berperan.


Apa Itu Serangan Jantung?

Serangan jantung (myocardial infarction) terjadi ketika aliran darah ke bagian jantung terhambat atau terhenti, biasanya akibat penyumbatan arteri koroner. Kondisi ini menyebabkan otot jantung kekurangan oksigen, yang memicu kerusakan atau kematian jaringan otot jantung.

Faktor risiko serangan jantung umumnya mencakup:

  • Hipertensi (tekanan darah tinggi)
  • Diabetes
  • Kolesterol tinggi
  • Merokok
  • Riwayat keluarga penyakit jantung
    Semua itu dapat berkembang menjadi faktor berkontribusi terjadinya serangan jantung apabila tidak terkontrol dengan baik.

Hubungan Antara Kegemukan dan Serangan Jantung

Dokter Yislam menekankan bahwa kegemukan — meskipun merupakan salah satu faktor risiko — tidak otomatis menyebabkan serangan jantung pada semua orang yang mengalaminya. Namun begitu, kondisi kegemukan sering kali berkaitan erat dengan sekumpulan faktor medis yang dapat memicu penyakit jantung.

Menurut berbagai studi kesehatan, orang yang memiliki kelebihan lemak tubuh, terutama di sekitar perut (visceral fat), memiliki risiko lebih tinggi mengalami:

  • Tekanan darah tinggi
  • Kolesterol jahat (LDL) meningkat
  • Kadar gula darah tinggi atau diabetes
  • Sindrom metabolik — yaitu gabungan dari kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung.

Kondisi tersebut secara kolektif dapat mempercepat aterosklerosis, yaitu penumpukan plak di dinding arteri yang menghambat aliran darah ke jantung. Seiring waktu, plak ini bisa pecah sehingga memicu pembentukan bekuan darah dan menyebabkan serangan jantung.

Selain itu, penelitian klinis juga menunjukkan bahwa lemak yang menumpuk di dalam tubuh tidak hanya berperan sebagai penanda risiko, tetapi juga dapat berkontribusi langsung pada stres jantung dan gangguan metabolik yang meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit kardiovaskular.


Faktor Risiko dan Kaitannya dengan Obesitas

Hipertensi dan Kolesterol Tinggi

Salah satu efek utama kegemukan adalah meningkatkan tekanan darah dan kadar kolesterol darah. Kondisi ini memberi beban kerja lebih besar pada jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh, sehingga dari waktu ke waktu dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan otot jantung.

Diabetes dan Sindrom Metabolik

Kelebihan lemak tubuh sering diterjemahkan sebagai resistensi insulin, yang kemudian berkembang menjadi diabetes tipe 2 — kondisi yang dikenal meningkatkan risiko penyakit jantung hingga signifikan tinggi. Ketika tubuh gagal mengatur kadar gula darah, kerusakan pembuluh darah serta peradangan kronis terjadi, mempermudah terbentuknya plak arteri.

Sindrom metabolik sendiri merupakan kombinasi dari kondisi seperti obesitas perut, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan profil lipid buruk. Individu dengan sindrom ini memiliki peluang lebih tinggi mengalami kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung.

Faktor Genetik dan Individu

Dokter Yislam menambahkan bahwa faktor genetik juga memiliki peran signifikan dalam kerentanan terhadap penyakit jantung. Ada kasus di mana pasien tanpa faktor risiko yang jelas dapat mengalami penyumbatan pembuluh darah serius secara tiba-tiba, sehingga pemeriksaan rutin menjadi penting.


Risiko Pada Orang Gemuk — Apa Kata Penelitian Internasional?

Berbagai studi kesehatan menunjukkan bukti bahwa obesitas merupakan faktor risiko independen untuk penyakit jantung:

  • Penelitian dari Imperial College London menemukan bahwa orang kelebihan berat badan atau obesitas memiliki risiko lebih tinggi untuk penyakit jantung koroner dibandingkan mereka dengan berat badan normal, bahkan tanpa faktor metabolik lain.
  • Organisasi kesehatan global menyatakan bahwa obesitas meningkatkan risiko bagi kondisi yang dapat menyebabkan serangan jantung, termasuk tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi.

Namun, penting dicatat bahwa hubungan ini bersifat probabilistik, artinya tidak semua orang dengan obesitas pasti mengalami serangan jantung, tetapi peluang mengalami risiko tersebut memang lebih tinggi dibanding mereka yang memiliki berat badan sehat.


Cek Kesehatan Dini: Kunci Deteksi Risiko

Salah satu pesan penting yang disampaikan oleh dokter Yislam adalah pentingnya pemeriksaan kesehatan berkala. Banyak kasus yang terlihat “sehat” namun menunjukkan tanda-tanda serius hanya setelah pemeriksaan lanjutan seperti CT scan dilakukan, khususnya untuk mendeteksi penyumbatan pembuluh darah.

Beberapa pemeriksaan yang direkomendasikan meliputi:

  • Tes tekanan darah
  • Profil lipid darah (kolesterol)
  • Kadar gula darah
  • Elektrokardiogram (EKG)
  • Pemeriksaan pencitraan jantung seperti CT angiografi

Deteksi dini melalui pemeriksaan rutin membantu mengetahui perubahan kondisi jantung atau pembuluh darah sebelum berkembang menjadi serangan jantung serius.


Pencegahan: Tidak Hanya Menurunkan Berat Badan

Perubahan gaya hidup menjadi strategi utama dalam mencegah risiko serangan jantung, terutama bagi mereka dengan berat badan berlebih. Langkah-langkah ini termasuk:

1. Menerapkan Pola Makan Sehat

Mengurangi konsumsi gula, lemak jenuh, dan makanan olahan dapat membantu menurunkan berat badan serta memperbaiki profil kolesterol dan tekanan darah.

2. Aktif Berolahraga

Aktivitas fisik rutin membantu menjaga berat badan ideal, memperbaiki fungsi jantung, serta meningkatkan kesehatan pembuluh darah.

3. Kontrol Faktor Risiko Lain

Menghindari merokok, rutin cek tekanan darah, dan menjaga kadar gula darah merupakan langkah penting dalam mencegah penyakit jantung.

Dokter umumnya menyarankan kombinasi pendekatan gaya hidup sehat dengan pengelolaan medis jika diperlukan untuk mengurangi risiko kardiovaskular secara efektif.


Kesimpulan: Gemuk Bukan Kepastian, Tapi Risiko Nyata

Intinya, kegemukan meningkatkan risiko seseorang mengalami serangan jantung, tetapi tidak otomatis menjadikan setiap orang gemuk sebagai penderita serangan jantung secara pasti. Risiko tersebut hadir karena kegemukan sering kali terkait dengan faktor-faktor medis lain seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, dan sindrom metabolik.

Selain itu, faktor genetik, gaya hidup, serta pemeriksaan kesehatan berkala memainkan peran besar dalam menentukan apakah seseorang akan mengalami penyakit jantung. Pemeriksaan kesehatan dan perubahan gaya hidup tetap menjadi langkah penting dalam mencegah risiko kardiovaskular.