Alasan Ressa Rizky Balas Dingin Chat Denada: Trauma, Canggung, dan Perjalanan Hubungan yang Belum Mencair
Jakarta, 12 Februari 2026 – Hubungan antara pemuda Ressa Rizky Rosano dan penyanyi Denada Tambunan kembali mencuri perhatian publik Indonesia setelah Ressa hanya membalas chat WhatsApp Denada dengan pesan yang terkesan singkat dan dingin. Sederet faktor emosional dan psikologis di balik sikap itu perlahan terungkap dalam konferensi pers dan pernyataan resmi kuasa hukum Ressa dalam beberapa hari terakhir.
Permasalahan ini berakar dari hubungan keluarga yang penuh liku sejak Ressa mengaku sebagai anak biologis Denada setelah hampir 24 tahun hidup terpisah. Meskipun Denada akhirnya mengakui secara terbuka status tersebut lewat video di Instagram, komunikasi tatap muka maupun melalui pesan singkat ternyata belum berjalan mulus, bahkan memunculkan kecanggungan di antara mereka.
Kronologi Singkat Hubungan Ressa dan Denada
Identitas hubungan keluarga antara Ressa dan Denada menjadi sorotan publik pada awal Februari 2026 setelah penyanyi Denada secara resmi mengakui bahwa Ressa Rizky Rosano adalah anak kandungnya yang berpisah sejak kecil. Hal ini disampaikan Denada melalui unggahan video di Instagram sebagai bentuk pengakuan setelah bertahun-tahun lamanya Ressa diasuh oleh keluarga lain.
Sebelumnya, Ressa mengenal Denada bukan sebagai ibu kandungnya, melainkan sebagai sepupu atau sosok yang lebih tua secara sosial dalam keluarga besar. Ia kerap memanggil Denada “Mbak” karena hubungan mereka tidak pernah intens sejak kecil.
Setelah pengakuan itu, publik ramai memperhatikan langkah hubungan mereka. Banyak pihak berharap pertemuan dan komunikasi yang harmonis segera terjalin, namun kondisi di balik layar berbeda dari yang dibayangkan.
Momen Chat yang Dipandang “Dingin”
Perhatian kembali memuncak ketika kabar beredar bahwa Ressa hanya membalas pesan WhatsApp Denada dengan kata “Waalaikumsalam” — sebuah balasan yang terkesan singkat dan dingin dibanding harapan publik terhadap hubungan ibu-anak yang baru saja diakui.
Dalam konferensi pers di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, kuasa hukum Ressa, Ronald Armada, menjelaskan bahwa balasan itu bukan semata bentuk ketidaksopanan atau sikap sinis, tetapi mencerminkan kekhawatiran dan keterasingan emosional yang dialami Ressa setelah puluhan tahun hidup tanpa figur ibu yang nyata.
Armada menekankan bahwa Ressa sebenarnya telah berupaya menghubungi Denada lebih dulu dengan berbagai pesan panjang untuk menjelaskan isi hati dan perasaannya. Akan tetapi, respons yang ia terima dari Denada selama ini tidak mencerminkan kehangatan hubungan ibu-anak — sehingga Ressa merasa kebingungan bagaimana harus bersikap.
Trauma dan Kecanggungan Emosional
Menurut sejumlah pernyataan yang dikutip dari wawancara Ressa dan kuasa hukumnya, jawaban yang singkat itu dilatarbelakangi oleh trauma emosional dan rasa canggung yang mendalam. Ressa yang selama 24 tahun hidup tanpa ibu kandung merasa bingung sekaligus takut membuka luka lama yang belum sembuh sepenuhnya.
Ressa mengaku bahwa tiba-tiba dihubungi oleh Denada — sosok yang selama hidupnya hanya pernah dipanggil “Mbak” — membuatnya tak tahu harus bersikap bagaimana. Ressa merasa sangat canggung karena selama hidupnya ia tidak memiliki pengalaman hubungan keluarga yang hangat dengan Denada sejak kecil.
Lebih jauh, Ressa juga menyampaikan bahwa trauma masa lalu — berupa penolakan atau rasa kehilangan yang dideritanya selama jauh dari ibu kandung — membuatnya merasa ragu untuk langsung membuka komunikasi yang lebih dalam. Ia takut jika harapannya akan hubungan yang akrab justru ditolak atau berakhir dengan kekecewaan.
KEINGINAN BERTEMU TETAPI TERHALANG KECANGGUNGAN
Meski tampak dingin lewat chat, Ressa tetap menyatakan keinginan kuatnya untuk bertemu Denada secara langsung. Saat konferensi pers baru-baru ini, Ressa menegaskan bahwa pertemuan empat mata sangat ia harapkan untuk menyelesaikan perasaan yang “mengganjal” di hati sejak lama.
Keinginan tersebut bukan hanya tentang pertemuan biasa, tetapi lebih kepada penyelesaian emosional — di mana Ressa berharap dapat membahas sejumlah hal yang tidak pernah sempat dibicarakan karena hubungan mereka yang terputus selama bertahun-tahun.
Namun, pertemuan itu pun belum terealisasi karena Ressa merasa masih perlu waktu dan ruang untuk menyembuhkan trauma emosionalnya dan membangun keberanian untuk menghadapi sosok yang selama hidupnya ia anggap berbeda dari “ibu kandung” sebagaimana seharusnya.
PERAN KUASA HUKUM DAN PERAGKAT MEDIASI
Kuasa hukum Ressa, Ronald Armada, menegaskan bahwa upaya komunikasi antara kliennya dan Denada belum berjalan lancar karena kedua pihak sedang berusaha menyesuaikan diri dengan situasi baru tersebut. Ronald menyampaikan bahwa proses pembukaan komunikasi emosi harus dilakukan secara bertahap, bukan terburu-buru, agar keduanya memiliki ruang yang cukup untuk memahami satu sama lain.
Armada juga menyarankan bahwa pertemuan pertama sebaiknya terjadi dengan suasana yang benar-benar tenang dan tanpa tekanan publik, agar kedua pihak bisa berbicara secara penuh tanpa gangguan media atau netizen.
KAITAN DENGAN ISU GUGATAN HUKUM
Persoalan chat dingin antara Ressa dan Denada muncul di tengah kabar gugatan hukum yang dilayangkan Ressa kepada Denada terkait dugaan penelantaran anak kandung. Gugatan ini telah didaftarkan di Pengadilan Negeri Banyuwangi dan menjadi salah satu sumber dinamika hubungan mereka yang rumit.
Dalam gugatan tersebut, Ressa menuntut keadilan atas 23 tahun ketidakjelasan status keluarga, perawatan, pendidikan, serta kebutuhan hidup yang dialami selama ini, termasuk kerugian immaterial akibat tekanan psikologis yang dialaminya selama hidup tanpa ibu. Total gugatan menurut laporan mencapai puluhan miliar rupiah, mencerminkan kedalaman konflik emosional yang dialami Ressa.
REAKSI PUBLIK DAN DUKUNGAN SOSIAL
Peristiwa ini memancing beragam reaksi dari publik Indonesia. Banyak netizen yang menyayangkan sikap dingin Ressa, namun tidak sedikit juga yang memberikan dukungan karena memahami akar emosional serta trauma yang dialami. Mereka melihat bahwa membangun hubungan keluarga yang retak selama puluhan tahun tidak bisa terjadi secara instan, tetapi membutuhkan proses panjang antara kedua belah pihak.
Beberapa pengamat sosial dan psikolog pun memberi catatan bahwa komunikasi antara anak dan ibu biologis yang tercipta setelah lama berpisah perlu dibentuk secara hati-hati, dengan mempertimbangkan latar belakang pengalaman hidup kedua pihak.
Kesimpulan
Balasan chat singkat dan terkesan dingin yang diberikan oleh Ressa Rizky kepada Denada bukan sekadar gaya komunikasi biasa, tetapi mencerminkan kecanggungan emosional, trauma masa lalu, dan ketidakpastian hubungan yang belum sepenuhnya pulih setelah 24 tahun terpisah.
Meskipun demikian, Ressa tetap menyimpan keinginan kuat untuk bertemu Denada secara langsung, tapi harapan itu masih harus ditempuh secara bertahap sesuai kesiapan emosional kedua belah pihak.
Hubungan mereka saat ini masih berada di fase penyesuaian dan proses pemulihan, bukan hanya soal status hukum keluarga atau gugatan yang tengah berjalan, tetapi juga tentang pembangunan kembali kepercayaan dan kenyamanan emosional yang mungkin telah hilang selama dua dekade lebih.

