EkonomiNasional / Jabodetabek

Airlangga Hartarto: Harga Minyak Tinggi Bisa Dorong Defisit APBN Tembus 3 Persen

Pemerintah Indonesia menyiapkan sejumlah skenario untuk menghadapi dampak lonjakan harga minyak dunia terhadap kondisi fiskal negara. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa kenaikan harga minyak berpotensi membuat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melampaui batas yang selama ini dijaga pemerintah.

Airlangga menjelaskan pemerintah telah menyusun beberapa simulasi ekonomi untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan harga minyak global yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah. Berdasarkan perhitungan tersebut, mempertahankan defisit APBN di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) akan menjadi tantangan jika harga energi terus meningkat.

Ia memaparkan simulasi tersebut dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara. Dalam paparannya, pemerintah memproyeksikan beberapa skenario yang mempertimbangkan harga minyak mentah Indonesia, nilai tukar rupiah, serta imbal hasil surat utang negara.

Skenario Harga Minyak dan Dampaknya

Dalam skenario pertama, pemerintah memperkirakan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) berada di kisaran US$86 per barel. Jika kondisi tersebut terjadi dan nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp17.000 per dolar AS, pertumbuhan ekonomi diperkirakan dapat dijaga di kisaran 5,3 persen.

Namun, dengan asumsi tersebut defisit APBN diproyeksikan mencapai sekitar 3,18 persen terhadap PDB. Angka tersebut sudah melampaui batas defisit fiskal yang selama ini dijaga pemerintah di level maksimal 3 persen.

Sementara itu, dalam skenario kedua yang lebih moderat, harga minyak diperkirakan meningkat hingga sekitar US$97 per barel. Pada kondisi ini nilai tukar rupiah diproyeksikan melemah ke kisaran Rp17.300 per dolar AS, sementara pertumbuhan ekonomi diperkirakan turun sedikit menjadi sekitar 5,2 persen.

Dalam situasi tersebut, defisit APBN berpotensi meningkat hingga 3,53 persen dari PDB. Pemerintah menilai kondisi ini masih mungkin terjadi jika konflik global menyebabkan gangguan pasokan energi di pasar internasional.

Skenario Terburuk Defisit Bisa Tembus 4 Persen

Pemerintah juga menyiapkan skenario pesimistis apabila harga minyak dunia melonjak lebih tinggi. Dalam simulasi tersebut, harga minyak diperkirakan dapat mencapai US$115 per barel dengan nilai tukar rupiah melemah hingga sekitar Rp17.500 per dolar AS.

Dalam kondisi tersebut, defisit APBN diperkirakan dapat melebar hingga sekitar 4,06 persen terhadap PDB. Jika skenario ini terjadi, pemerintah kemungkinan harus menyesuaikan kebijakan fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Airlangga menegaskan bahwa menjaga defisit di bawah 3 persen akan sulit dilakukan apabila harga minyak terus meningkat tanpa adanya penyesuaian pada belanja negara.

Pemerintah Siapkan Langkah Antisipasi

Pemerintah saat ini masih mempelajari berbagai opsi kebijakan untuk mengantisipasi tekanan terhadap APBN. Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah melakukan penyesuaian belanja negara atau meninjau ulang asumsi pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, pemerintah juga membuka kemungkinan kebijakan fiskal tambahan untuk menjaga stabilitas anggaran negara. Beberapa opsi yang dipertimbangkan antara lain optimalisasi penerimaan negara dari sektor komoditas strategis seperti kelapa sawit, nikel, emas, dan tembaga.

Lonjakan harga minyak global sendiri dipicu oleh ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan energi di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat harga minyak dunia kembali menembus level di atas US$100 per barel dalam beberapa waktu terakhir.

Kenaikan harga energi biasanya berdampak langsung pada beban subsidi energi dan biaya impor minyak bagi negara yang masih bergantung pada pasokan energi global. Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas fiskal dan pertumbuhan ekonomi.

Airlangga menegaskan bahwa berbagai skenario yang disusun pemerintah akan dibahas lebih lanjut dalam rapat terbatas kabinet guna menentukan kebijakan yang paling tepat dalam menghadapi dinamika ekonomi global.