Ekonomi

BPS Siapkan Pengumuman Inflasi: Bisa Jadi Kabar Baik atau Buruk untuk Ekonomi RI

Jakarta — Masyarakat dan pelaku pasar di Indonesia tengah menantikan pengumuman penting yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) terkait data inflasi periode Desember 2025. Rilis data yang dijadwalkan keluar pada hari Senin, 5 Januari 2026 ini dipandang sebagai indikator kunci yang bisa memberikan sinyal kabar baik atau buruk bagi kondisi perekonomian nasional di awal tahun.

Inflasi merupakan salah satu parameter fundamental dalam mengukur stabilitas harga di suatu negara. Kenaikan atau penurunan inflasi dalam satu periode mampu mempengaruhi daya beli masyarakat, kebijakan moneter, serta ekspektasi pasar. Karena itu, data inflasi Desember menjadi momen penting yang diawasi oleh investor, pelaku usaha, bank sentral, hingga publik umum.


Apa yang Akan Diumumkan BPS?

BPS akan mengumumkan angka Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mencerminkan inflasi nasional untuk periode Desember 2025. Angka ini menggambarkan perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga dari bulan sebelumnya. Data tersebut akan mencakup inflasi secara bulanan (month-to-month) dan secara tahunan (year-on-year).

Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun sejumlah analis ekonomi, angka inflasi Desember diperkirakan mengalami sedikit peningkatan dibanding periode sebelumnya. Namun besaran kenaikannya masih menjadi tanda tanya, terutama di tengah dinamika ekonomi global dan domestik yang berubah-ubah.

Prediksi awal tersebut didukung oleh fakta bahwa aktivitas ekonomi pada akhir tahun cenderung lebih tinggi — seiring dengan momen libur Natal dan Tahun Baru yang meningkatkan permintaan berbagai barang dan jasa. Aktivitas tersebut biasanya berdampak pada tekanan harga, terutama di sektor makanan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Namun, seberapa besar dampaknya baru bisa dipastikan setelah data resmi dirilis.


Kemungkinan Dampak, Kabar Baik atau Buruk?

Pengumuman inflasi bisa membawa dua skenario utama bagi perekonomian Indonesia:

📈 1. Kabar Baik: Inflasi Terkendali atau Lebih Rendah dari Perkiraan

Jika angka inflasi Desember 2025 yang diumumkan BPS berada di level yang rendah atau sesuai target, ini dapat dipandang sebagai kabar baik. Inflasi yang terkendali menandakan stabilitas harga berjalan baik, sehingga daya beli masyarakat tidak terlalu tertekan. Kondisi ini juga memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertimbangkan penyesuaian suku bunga kebijakan yang lebih fleksibel guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, inflasi yang moderat biasanya berdampak positif pada sentimen pasar finansial, termasuk penguatan rupiah dan naiknya minat investasi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini terutama penting di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi.

📉 2. Kabar Buruk: Inflasi Lebih Tinggi dari Ekspektasi

Sebaliknya, jika angka inflasi yang diumumkan ternyata lebih tinggi dari prediksi analis, hal ini bisa menjadi kabar buruk. Inflasi yang tinggi berarti harga barang dan jasa meningkat secara signifikan, yang berpotensi menurunkan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah.

Situasi tersebut dapat memaksa Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga lebih cepat atau lebih tajam dari proyeksi sebelumnya, guna meredam tekanan harga. Kebijakan moneter yang lebih ketat sering kali berdampak pada perlambatan investasi dan konsumsi, yang akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi.


Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan

Beberapa faktor utama yang dapat mempengaruhi angka inflasi Desember antara lain:

  • Harga bahan pangan yang sensitif terhadap perubahan musim dan permintaan pasar.
  • Tarif transportasi dan energi, yang seringkali berfluktuasi mengikuti harga global.
  • Permintaan libur akhir tahun yang biasanya menciptakan tekanan pada tarif jasa tertentu.

Analis juga menekankan bahwa angka inflasi inti (core inflation), yang mengecualikan harga barang volatile seperti makanan dan energi, akan menjadi indikator penting untuk melihat tren harga riil di luar fluktuasi sementara.


Reaksi Pasar dan Publik Menjelang Rilis

Menjelang rilis data, pasar modal dan nilai tukar rupiah cenderung bergerak hati-hati. Investor biasanya menunggu angka resmi BPS sebagai acuan untuk menetapkan strategi investasi mereka di awal tahun. Begitu juga dengan pelaku usaha, yang akan menyesuaikan rencana produksi dan harga jual barang mereka berdasarkan tren inflasi terbaru.

Bagi masyarakat umum, terutama rumah tangga, angka inflasi yang diumumkan BPS akan menjadi salah satu indikator penting untuk menilai kemampuan daya beli dan biaya hidup di sepanjang 2026. CNBC Indonesia


Kesimpulan: Rilis inflasi Desember 2025 oleh BPS merupakan momen penting yang berpotensi membawa harapan atau kekhawatiran bagi perekonomian Indonesia. Angka yang menunjukkan inflasi terkontrol akan menjadi kabar baik, sementara inflasi di luar ekspektasi dapat menimbulkan dampak buruk bagi daya beli dan kebijakan ekonomi ke depan.