Infrastruktur

Gapura Rp3 Miliar di Perbatasan Jabar-Jakarta Jadi Sorotan, Dedi Mulyadi Jelaskan Konsepnya

Pembangunan gapura perbatasan Jabar-Jakarta di Jalan Margonda Raya, Kota Depok, menjadi perhatian publik. Proyek tersebut ramai diperbincangkan setelah nilai anggarannya disebut mencapai sekitar Rp3 miliar dan desain bangunannya dinilai memiliki kemiripan dengan bentuk Candi Bentar.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pun memberikan penjelasan mengenai proyek yang dibangun sebagai penanda pintu masuk wilayah Jawa Barat dari arah Jakarta itu. Menurut Dedi, pembangunan tidak semata-mata dimaksudkan untuk menghadirkan sebuah gerbang, tetapi menjadi bagian dari upaya menata kawasan perbatasan sekaligus memperkuat identitas visual Jawa Barat.

Ia juga menegaskan bahwa konsep serupa tidak hanya diterapkan di Depok. Pemprov Jawa Barat berencana menghadirkan karakter gerbang yang relatif seragam pada sejumlah pintu masuk provinsi sehingga masyarakat dapat langsung mengenali identitas Jawa Barat ketika melintasi kawasan perbatasan.

Gapura Perbatasan Jabar-Jakarta Berada di Margonda

Proyek gapura tersebut berada di koridor Jalan Margonda Raya, Depok, yang merupakan salah satu jalur penting penghubung Jawa Barat dengan Jakarta.

Posisinya membuat pembangunan gerbang tidak hanya memiliki fungsi dekoratif. Kawasan tersebut menjadi salah satu titik awal yang dilalui masyarakat ketika memasuki Jawa Barat dari ibu kota.

Dedi menilai kawasan perbatasan memiliki posisi strategis karena menjadi semacam wajah awal sebuah daerah. Kondisi jalan, penataan ruang hingga elemen visual yang ditemui pengendara ikut membentuk kesan terhadap wilayah yang baru dimasuki.

Karena alasan itu, Pemprov Jawa Barat tidak ingin penataan berhenti pada pembangunan struktur gapura. Dedi mengatakan kualitas jalan di kawasan tersebut juga perlu diperhatikan agar pintu masuk Jawa Barat memiliki kondisi infrastruktur yang layak.

Dalam dokumen perencanaan pembangunan Jawa Barat 2026, Depok memang termasuk wilayah administratif yang berbatasan langsung dengan Jakarta bersama Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, dan Kota Bekasi. Kerja sama kawasan perbatasan mencakup berbagai sektor pelayanan publik dan pembangunan.

Berapa Sebenarnya Anggaran Gapura Depok?

Nilai proyek menjadi salah satu bagian yang paling banyak menyita perhatian masyarakat.

Berdasarkan data Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan yang dikutip dalam pemberitaan terkait proyek itu, pagu untuk pembangunan gapura tercatat sebesar Rp3.070.210.050.

Namun, angka pagu tidak sama dengan nilai kontrak pekerjaan.

Nilai kontrak pembangunan disebut mencapai Rp2.495.121.811, atau sekitar Rp2,49 miliar. Dengan demikian, penyebutan “gapura Rp3 miliar” merujuk pada pagu anggaran proyek, sedangkan nilai kontrak aktual berada di bawah angka tersebut.

Perbedaan antara pagu dan nilai kontrak penting diperhatikan agar informasi mengenai biaya pembangunan tidak menimbulkan persepsi keliru.

Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Jawa Barat Rudi Hermawan Kusumah mengatakan pengerjaan proyek ditargetkan berlangsung selama sekitar tiga bulan. Bila pekerjaan berjalan sesuai jadwal, proyek tersebut ditargetkan rampung pada awal Desember 2026.

Mengapa Desainnya Mirip Candi Bentar?

Selain anggaran, bentuk gapura perbatasan Jabar-Jakarta ikut memicu diskusi.

Desainnya disebut menyerupai Candi Bentar, sebuah bentuk gerbang yang terdiri atas dua struktur simetris dan telah lama ditemukan dalam tradisi arsitektur Nusantara.

Dedi Mulyadi membenarkan penggunaan konsep tersebut. Menurut dia, model semacam itu akan menjadi karakter gerbang perbatasan Jawa Barat dan tidak dibuat khusus hanya untuk Kota Depok.

Ia ingin pintu-pintu masuk menuju Jawa Barat memiliki identitas visual yang sama sehingga keberadaan gapura tidak sekadar menjadi penunjuk batas administratif.

Konsep Candi Bentar sebelumnya juga digunakan dalam penataan gerbang Gedung Sate di Bandung. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjelaskan bahwa desain di Gedung Sate mengambil inspirasi dari warisan yang masih ditemukan dalam tradisi Kacirebonan. Bentuk itu dipilih sebagai simbol transisi ketika seseorang memasuki sebuah kawasan.

Penggunaan elemen tersebut menunjukkan bahwa Pemprov Jabar sedang mencoba membangun bahasa arsitektur yang konsisten pada sejumlah fasilitas dan ruang publik.

Dedi Mulyadi Ingin Pintu Masuk Jabar Punya Identitas

Bagi Dedi, keberadaan gapura berkaitan dengan bagaimana sebuah provinsi memperkenalkan identitasnya kepada masyarakat.

Kawasan perbatasan dinilai tidak seharusnya hanya dipahami sebagai garis yang memisahkan dua wilayah administratif. Di lokasi seperti Depok-Jakarta, perbatasan merupakan jalur dengan mobilitas tinggi yang setiap hari dilintasi masyarakat.

Karena itu, ia ingin kawasan tersebut memiliki karakter yang terlihat jelas.

Pendekatan semacam ini sebenarnya bukan hal baru dalam pembangunan daerah. Sejumlah pemerintah daerah menggunakan monumen, gapura maupun lanskap tertentu sebagai penanda visual ketika memasuki wilayahnya.

Namun, besarnya anggaran membuat proyek tersebut mendapat perhatian lebih luas. Publik kemudian mempertanyakan aspek manfaat, prioritas hingga desain yang digunakan.

Dedi merespons dengan menekankan bahwa penataan yang dilakukan tidak hanya berkaitan dengan ornamen fisik. Pemerintah provinsi juga akan memperhatikan kualitas jalan di kawasan pintu masuk tersebut.

Konsep Candi Bentar Sebelumnya Juga Menuai Perdebatan

Penggunaan desain Candi Bentar oleh Pemprov Jawa Barat sebelumnya pernah menjadi perbincangan saat konsep serupa diterapkan pada gerbang Gedung Sate.

Pada 2025, renovasi gerbang Gedung Sate dengan sentuhan Candi Bentar sempat mendapat kritik dari sejumlah anggota DPRD Jawa Barat. Perdebatan saat itu antara lain menyangkut besarnya anggaran dan ketepatan pemilihan representasi budaya.

Pemprov Jabar kala itu menjelaskan bahwa konsep tersebut dipilih untuk memperkuat unsur budaya lokal pada Gedung Sate yang memiliki karakter arsitektur kolonial yang kuat.

Material dan detail desain juga dirancang untuk menggabungkan unsur tradisional dengan lingkungan bangunan yang sudah ada. Pemprov menyebut Candi Bentar masih dapat ditemukan dalam tradisi sejumlah keraton di Jawa Barat.

Kesamaan konsep itulah yang kini terlihat pada pembangunan gapura di perbatasan Depok dan Jakarta.

Tantangan Tak Hanya Soal Estetika

Setelah proyek selesai, penilaian terhadap gapura kemungkinan tidak hanya berkutat pada bentuk bangunan atau besarnya anggaran.

Sebagai fasilitas yang berada di salah satu jalur sibuk menuju Depok, aspek fungsional juga menjadi penting. Penataan kawasan perlu memastikan keberadaan struktur baru tidak mengganggu lalu lintas, visibilitas pengendara maupun ruang bagi pejalan kaki.

Kualitas konstruksi dan pemeliharaan jangka panjang juga akan menentukan apakah investasi tersebut memberikan manfaat sesuai tujuan awal.

Terlebih, Dedi menempatkan gerbang sebagai bagian dari citra Jawa Barat. Artinya, kondisi gapura setelah digunakan bertahun-tahun akan sama pentingnya dengan desain ketika pertama kali diresmikan.

Di sisi lain, transparansi biaya juga menjadi perhatian. Informasi bahwa pagu mencapai Rp3,07 miliar sementara nilai kontraknya sekitar Rp2,49 miliar menjadi detail penting bagi publik dalam melihat penggunaan anggaran proyek.

Ditargetkan Selesai Awal Desember 2026

Pengerjaan gapura perbatasan Jabar-Jakarta masih berlangsung dan ditargetkan selesai pada awal Desember 2026.

Ketika proyek rampung, kawasan perbatasan di Jalan Margonda Raya akan memiliki tampilan berbeda dibanding sebelumnya. Gerbang dengan konsep yang terinspirasi Candi Bentar akan menjadi penanda bagi pengendara yang memasuki wilayah Jawa Barat dari arah Jakarta.

Bagi Pemprov Jabar, proyek ini merupakan bagian dari pembentukan identitas kawasan sekaligus penataan pintu masuk provinsi. Bagi publik, sorotan kemungkinan tetap tertuju pada apakah hasil akhir pembangunan sebanding dengan anggaran yang digunakan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh seberapa menarik bentuk gapuranya. Kualitas konstruksi, penataan jalan, fungsi kawasan, kemudahan bagi pengguna jalan, serta kemampuan pemerintah merawat fasilitas tersebut dalam jangka panjang akan menjadi tolok ukur yang lebih nyata.

Dengan target penyelesaian pada awal Desember, publik kini tinggal menunggu seperti apa wajah akhir pintu masuk Jawa Barat di perbatasan Depok-Jakarta tersebut.