Angka Kelahiran China Mencatat Rekor Terendah, Generasi Muda Tunda Nikah karena Tekanan Ekonomi
Beijing, 23 Januari 2026 – China mencatat penurunan angka kelahiran paling tajam dalam sejarah modern negara itu pada 2025, sementara banyak generasi muda menunda pernikahan dan menunda memiliki anak karena tekanan ekonomi, biaya hidup tinggi, serta ketidakpastian masa depan. Kebijakan pemerintah yang mendorong pertumbuhan keluarga belum berhasil mengubah tren demografis yang mengkhawatirkan ini.
Data resmi terbaru menunjukkan bahwa jumlah kelahiran di seluruh China hanya mencapai 7,92 juta jiwa sepanjang 2025, turun sekitar 17 % dibandingkan tahun sebelumnya dan berada pada level terendah sejak pencatatan dimulai pada 1949. Penurunan ini membuat jumlah penduduk China menyusut sebanyak 3,39 juta jiwa pada akhir tahun lalu, sekaligus memperpanjang tren penurunan populasi selama empat tahun berturut-turut.
Angka kelahiran yang anjlok itu jauh berada di bawah jumlah kematian yang mencapai 11,31 juta jiwa, sehingga jumlah penduduk total negara itu turun ke sekitar 1,405 miliar jiwa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa jumlah orang yang meninggal jauh lebih banyak dibanding yang lahir, suatu fenomena yang menjadi fokus utama pemerintah dan para ahli demografi.
Generasi Muda Menunda Nikah dan Anak karena Biaya Tinggi
Para ahli mencatat bahwa generasi muda China kini semakin memprioritaskan stabilitas ekonomi sebelum menikah dan memiliki anak. Kondisi pasar kerja yang kompetitif, biaya rumah tangga tinggi, serta harga perumahan yang melonjak di kota-kota besar menjadi alasan utama para pasangan potensial menunda keputusan besar dalam hidup mereka.
Banyak orang muda yang tumbuh di era pasca one‑child policy kini merasakan tekana biaya hidup lebih berat, termasuk biaya pendidikan, kesehatan, dan perawatan anak yang terus meningkat. Mereka mengatakan bahwa kondisi pekerjaan yang tidak stabil dan biaya hidup yang tinggi membuat mereka merasa belum siap untuk berkomitmen pada keluarga besar.
Selain itu, pasangan muda juga menghadapi tekanan tradisional untuk memiliki rumah, biaya pernikahan, dan persyaratan sosial lainnya. Kebiasaan lama seperti “bride price” tinggi dan biaya upacara pernikahan yang besar semakin memperberat beban generasi muda, membuat mereka menunda menikah atau memilih tidak menikah sekaligus.
Upaya Pemerintah Belum Cukup Mengatasi Tren Demografis
Pemerintah China telah mencoba berbagai kebijakan untuk mendorong kenaikan jumlah kelahiran. Mereka menghentikan sepenuhnya pembatasan jumlah anak per keluarga dan menggantinya dengan kebijakan yang memungkinkan pasangan memiliki hingga tiga anak atau lebih. Selain itu, pemerintah memperkenalkan subsidi penitipan anak, penghapusan biaya pendaftaran sekolah, dan luasnya fasilitas perawatan anak sebagai insentif untuk pasangan muda.
Namun, meskipun kebijakan itu sudah diterapkan selama beberapa tahun, respons masyarakat tetap terbatas. Banyak pasangan muda menyatakan bahwa insentif finansial tidak cukup untuk menutupi biaya nyata dari membesarkan anak di kota besar yang mahal, termasuk biaya pendidikan, kesehatan, dan biaya hidup sehari-hari.
Para ahli juga menilai bahwa solusi jangka panjang memerlukan perubahan struktural yang lebih luas, seperti peningkatan keamanan pekerjaan, penyediaan perumahan terjangkau, dan pengembangan layanan publik yang memadai agar keluarga merasa lebih aman secara finansial untuk menikah dan memiliki anak.
Dampak Bagi Ekonomi dan Sistem Sosial
Penurunan angka kelahiran dan populasi ini membawa dampak besar bagi China. Jumlah pekerja yang berkurang memperlambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang, sementara kebutuhan layanan kesehatan dan dukungan sosial meningkat seiring populasi yang semakin menua. Rencana pensiun nasional dan sistem jaminan sosial negara menghadapi tantangan besar ketika rasio jumlah orang tua yang menua meningkat lebih cepat daripada generasi pekerja muda.
Profesor demografi di Beijing mengatakan bahwa trennya bukan bersifat sementara, melainkan mencerminkan perubahan nilai sosial dan gaya hidup generasi muda yang semakin menempatkan prioritas pada kemandirian finansial dan kualitas hidup pribadi, bukan pada struktur keluarga tradisional.
Kesimpulan
China kini menghadapi tantangan demografis besar karena angka kelahiran yang mencapai titik terendah sejarah dan kecenderungan generasi muda untuk menunda menikah dan memiliki anak akibat tekanan ekonomi. Berbagai kebijakan pemerintah telah diperkenalkan untuk mendorong keluarga baru, tetapi hasilnya belum signifikan. Para ahli menilai solusi jangka panjang memerlukan perubahan struktural lebih luas, termasuk dukungan ekonomi, perumahan terjangkau, dan keamanan pekerjaan yang lebih baik, agar generasi muda dapat merasa siap untuk menikah dan membentuk keluarga di tengah tantangan hidup modern.

