Klaim Israel Robek Bendera Indonesia di Sidang PBB Ternyata Hoaks
Sebuah unggahan di media sosial menyebarkan narasi bahwa delegasi Israel telah “merobek bendera Merah Putih” dalam sidang perdamaian PBB. Setelah ditelusuri, RRI menyatakan klaim tersebut adalah hoaks dengan kategori “false context” — konten yang menyesatkan konteks aslinya.
Klaim yang Beredar
Di sejumlah platform seperti Facebook dan X, beredar video yang diklaim menunjukkan delegasi Israel merobek bendera Indonesia dalam forum PBB. Narasi ini beredar dengan cepat dan menimbulkan kemarahan netizen, terutama karena terkait simbol nasional.
Beberapa versi unggahan bahkan mengklaim bahwa Robekan tersebut menjadi tindakan simbolis dari protes Israel terhadap dukungan Indonesia terhadap Palestina. Narasi ini sangat provokatif dan menyangkut isu kedaulatan bangsa.
Penelusuran dan Klarifikasi RRI
Tim cek fakta RRI meneliti klaim tersebut dan menemukan bahwa video viral itu telah disalahtafsirkan. Menurut analisis RRI, konten yang beredar termasuk dalam kategori false context, artinya video tersebut mungkin nyata, tetapi narasi “robek bendera Indonesia” tidak tepat atau menyesatkan konteks aslinya.
RRI menyarankan masyarakat untuk mengkritisi unggahan semacam ini dan tidak langsung menyebarkan konten tanpa verifikasi. Mereka menekankan pentingnya cross-check dengan sumber resmi atau media cek fakta sebelum percaya narasi emosional yang bisa memicu konflik.
Penjelasan dari Media Lain
Media cek fakta lain juga menyatakan klaim tersebut keliru. Misalnya, Tempo menyebut bahwa tidak ada bukti valid bahwa diplomat Israel merobek bendera Indonesia di PBB.
Menurut Tempo, analisis terhadap video menunjukkan bahwa adegan robekan bendera itu tidak sesuai dengan konteks sidang PBB tentang perdamaian, dan kemungkinan besar merupakan manipulasi atau diambil dari konteks lain.
Imbauan bagi Publik dan Pentingnya Literasi Digital
Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana hoaks dengan konten emosional mudah menyebar dan bisa memicu sentimen nasionalisme ataupun kemarahan publik. RRI mengimbau masyarakat untuk:
- Memeriksa ulang sumber unggahan, terutama konten yang viral dan sensasional.
- Mengecek situs atau kanal cek fakta resmi (seperti RRI) sebelum menyebarkan informasi lebih jauh.
- Tidak langsung mempercayai narasi tanpa bukti kontekstual, terutama untuk isu internasional yang sensitif seperti kedaulatan negara.
RRI menekankan bahwa waspada hoaks adalah bagian dari literasi digital yang wajib di era media sosial. Setiap warga negara memiliki tanggung jawab untuk tidak menyebarkan informasi yang belum diverifikasi, agar tidak memperkeruh situasi dan menyebarkan disinformasi.
Dampak Negatif dari Sebaran Hoaks Semacam Ini
- Menumbuhkan ketegangan diplomatik: Isu robek bendera sangat simbolik dan bisa dibaca sebagai penghinaan terhadap kedaulatan — jika dipercaya publik, bisa memicu reaksi diplomatik atau publik yang keras.
- Melahirkan polarisasi di masyarakat: Narasi semacam ini dapat membagi warganet antara yang percaya dan yang skeptis, memperburuk polarisasi politik atau sosial.
- Merusak reputasi media sosial: Sebaran hoaks secara berulang membuat kepercayaan publik terhadap media sosial menurun, terutama jika banyak yang tidak cek fakta terlebih dahulu.
Kesimpulan
- Klaim bahwa Israel merobek bendera Indonesia di sidang PBB tidak benar menurut penelusuran RRI.
- Konten tersebut dikategorikan sebagai false context, yakni menggunakan video nyata tetapi dengan konfigurasi narasi yang menyesatkan.
- Publik diimbau untuk lebih waspada terhadap hoaks dan selalu melakukan verifikasi melalui kanal cek fakta tepercaya.

