Laut yang Bergolak: Xi Jinping Sebut Manuver Taipei Sebagai “Kompor Perang”
Suhu politik di Selat Taiwan kembali mencapai titik didih. Presiden China, Xi Jinping, dilaporkan menunjukkan kemarahan terbuka terhadap kepemimpinan di Taipei, menyusul serangkaian pernyataan dan kebijakan terbaru dari Presiden Taiwan yang dianggap Beijing melampaui “garis merah”. Dalam retorika yang semakin tajam, pemerintah China secara resmi melabeli pemimpin Taiwan tersebut sebagai “kompor perang” (warmonger) yang sengaja memancing konflik di kawasan Pasifik.
Kemarahan Beijing ini bukan tanpa alasan dalam kacamata mereka. China memandang setiap langkah penguatan kedaulatan Taiwan—baik melalui pembelian senjata baru maupun penggalangan dukungan diplomatik internasional—sebagai bentuk provokasi terhadap prinsip “Satu China”. Xi Jinping, yang telah menjadikan penyatuan kembali China sebagai misi historisnya, tampaknya mulai kehilangan kesabaran terhadap apa yang disebutnya sebagai upaya separatis yang didukung oleh kekuatan asing.
Eskalasi verbal ini diikuti dengan peningkatan aktivitas militer di sekitar pulau tersebut. Pengamat menyebut bahwa penggunaan diksi “kompor perang” adalah sinyal bahwa Beijing sedang mempersiapkan pembenaran moral dan politik jika suatu saat mereka memutuskan untuk mengambil langkah-langkah yang lebih drastis.
Analisis Retorika: Mengapa “Kompor Perang”?
Penyebutan “kompor perang” oleh China merupakan taktik diplomasi untuk membalikkan narasi global. Selama ini, dunia Barat cenderung melihat China sebagai pihak yang agresif di Selat Taiwan. Dengan menyebut Presiden Taiwan sebagai pemicu konflik, Beijing berusaha mencitrakan diri sebagai pihak yang defensif dan terpaksa bereaksi demi menjaga integritas wilayahnya.
Selain itu, kemarahan Xi Jinping ini dipicu oleh semakin eratnya hubungan pertahanan antara Taipei dan Washington. Bagi Beijing, keterlibatan Amerika Serikat dalam memperkuat militer Taiwan adalah bentuk campur tangan urusan dalam negeri yang tidak bisa ditoleransi. Xi memperingatkan bahwa mereka yang “bermain api” di Taiwan akan terbakar sendiri, sebuah metafora yang sering ia gunakan untuk menunjukkan keseriusan China dalam masalah kedaulatan.
Di dalam negeri China, retorika keras ini juga berfungsi untuk membangkitkan sentimen nasionalisme. Di tengah tantangan ekonomi domestik, isu penyatuan Taiwan seringkali menjadi alat efektif bagi Partai Komunis China untuk menyatukan dukungan rakyat di belakang kepemimpinan Xi.
Dampak Geopolitik di Kawasan
Ketegangan ini memberikan tekanan luar biasa bagi negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Timur. Jika Selat Taiwan benar-benar meledak menjadi konflik bersenjata, jalur perdagangan global akan lumpuh, dan ekonomi dunia—termasuk Indonesia—akan mengalami guncangan hebat. Status Taiwan sebagai pusat produksi semikonduktor dunia menjadikan konflik ini bukan sekadar urusan teritorial, melainkan ancaman bagi eksistensi teknologi modern.
Sejumlah analis di Singapura dan Tokyo melihat bahwa kemarahan Xi kali ini memiliki bobot yang berbeda. Ada kekhawatiran bahwa Beijing sedang menguji batas ketahanan sekutu-sekutu Taiwan. Dengan terus menekan melalui retorika “kompor perang”, China ingin melihat seberapa jauh dunia internasional bersedia pasang badan bagi Taiwan di tengah ketidakpastian politik global.
Di sisi lain, Taipei tetap berdiri teguh. Presiden Taiwan menegaskan bahwa mempertahankan cara hidup demokratis dan kedaulatan pulau tersebut adalah hak yang tidak dapat ditawar. Bagi Taipei, justru intimidasi militer China-lah yang menjadi ancaman nyata bagi perdamaian, bukan upaya mereka untuk membela diri.
Menanti Langkah Diplomasi atau Militer?
Dunia kini menanti apakah kemarahan Xi Jinping ini akan berlanjut pada tindakan militer yang lebih nyata, seperti blokade laut atau latihan tempur skala besar, ataukah ini merupakan bagian dari “perang saraf” untuk memaksa Taiwan kembali ke meja perundingan dengan syarat-syarat dari Beijing.
Diplomasi di balik layar yang dilakukan oleh negara-negara besar diharapkan mampu mendinginkan suasana. Namun, dengan kedua belah pihak yang merasa tidak bisa mundur demi menjaga harga diri nasional, ruang untuk kompromi semakin menyempit. Selat Taiwan kini bukan hanya menjadi batas geografis, melainkan garis depan dari pertarungan ideologi dan kekuasaan yang bisa menentukan wajah dunia di abad ke-21.
Satu yang pasti, ketika seorang pemimpin sekaliber Xi Jinping sudah mengeluarkan pernyataan “marah”, maka kata-kata tersebut akan diikuti oleh pergeseran kebijakan yang patut diwaspadai oleh seluruh pemimpin dunia.
