Wapres Venezuela Tuntut Pembebasan Maduro dan Istri, Tuding AS Lakukan ‘Penculikan Brutal’ – Reaksi Global Menguat
CARACAS — Konflik geopolitik di Amerika Latin memasuki fase baru setelah Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez mengecam penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya oleh pasukan Amerika Serikat (AS), menuntut pembebasan mereka, dan menyerukan dunia mengecam operasi tersebut yang dinilai sebagai “penculikan brutal”.
Permintaan tegas itu disampaikan Rodríguez melalui siaran nasional, hanya beberapa jam setelah militer AS melancarkan serangan malam hari di ibu kota Caracas serta wilayah lain di Venezuela. Operasi tersebut, menurut pernyataan resmi dari Washington, berhasil menangkap Maduro dan istrinya Cilia Flores dalam upaya memberi pertanggungjawaban atas tuduhan narkotika dan terorisme internasional yang dilontarkan AS terhadap keduanya.
Tuduhan ‘Penculikan Brutal’ oleh AS
Rodríguez secara langsung menolak legitimasi operasi militer yang dilancarkan oleh AS, menggambarkannya bukan sebagai penegakan hukum melainkan sebagai “penculikan brutal” dan pelanggaran atas hukum internasional dan kedaulatan Venezuela. Ia mengingatkan bahwa warga negaranya tidak akan menjadi “koloni” negara lain.
Dalam pidatonya yang disiarkan oleh televisi pemerintah VTV, Rodríguez juga menegaskan bahwa Maduro adalah satu-satunya presiden sah Venezuela, menolak klaim pihak AS yang menyatakan bahwa pihaknya telah bekerja dengannya untuk transisi pemerintahan. Pernyataan ini menunjukkan pertentangan tajam antara pemerintah Venezuela dan pernyataan Presiden AS Donald Trump.
Penangkapan Maduro dan Istri oleh AS: Tuduhan dan Alasan
Langkah militer yang dilancarkan AS merupakan salah satu aksi paling dramatis dalam hubungan bilateral AS–Venezuela dalam beberapa dekade terakhir. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa operasi itu berhasil menahan Maduro dan istrinya dan mereka kini berada di bawah pengawasan di wilayah AS. Ketua negara itu menuduh Maduro terlibat dalam kegiatan narco-terorisme, perdagangan narkoba, serta kejahatan lintas negara lain — tuduhan yang dibantah oleh pemerintah Caracas.
Menurut laporan internasional, pasangan tersebut kemungkinan akan diadili di New York atas serangkaian tuduhan narkotika dan kriminal lainnya. Trump justru menyatakan bahwa AS bertindak demi “kepentingan keamanan dan hukum internasional”, sementara pemerintahan Venezuela menyebut tindakan tersebut sebagai agresi ilegal.
Klaim dan Sikap Biden vs Trump
Respons dari Washington tampaknya dipimpin oleh pemerintahan Trump, yang menegaskan bahwa operasi militer itu sah dan penting untuk memerangi organisasi kriminal besar yang diduga beroperasi di bawah rezim Maduro. Trump bahkan menyatakan bahwa AS berencana untuk “mengelola Venezuela untuk sementara waktu” guna memastikan transisi yang aman — sebuah pernyataan yang segera menuai kritik luas dari berbagai pihak.
Pihak AS mengklaim operasi tersebut sebagai bagian dari penegakan hukum internasional, tetapi banyak negara dan pemerhati hukum menilai langkah tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan potensi preseden berbahaya bagi hubungan internasional masa depan.
Respons Venezuela dan Pemerintah Caracas
Setelah penangkapan tersebut, Wakil Presiden Delcy Rodríguez menyatakan bahwa pemerintah Venezuela saat ini tengah dalam kondisi krisis, dan bahwa lokasi persis Maduro dan istrinya masih belum jelas bagi publik Venezuela. Ia menuntut “proof of life” (bukti kehidupan) dari pihak AS — sebuah permintaan formal untuk memastikan bahwa Presiden dan ibu negara masih hidup dan diperlakukan secara manusiawi di bawah hukum internasional.
Rodríguez menyerukan agar rakyat Venezuela tetap tenang namun waspada, menolak desakan pihak luar untuk menyerah atau mengakui legitimasi tindakan tersebut. Dalam pidatonya, ia juga meminta persatuan nasional untuk menghadapi apa yang disebutnya “agresi imperialis”.
Reaksi Global yang Beragam
Pemberitaan tentang operasi AS terhadap Venezuela cepat memicu respons internasional yang beragam:
- Rusia dan Kuba mengecam langkah AS sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Venezuela. Kedua negara menyatakan solidaritasnya dengan Caracas dan menuntut pembebasan Maduro serta penghentian tindakan agresi.
- Meksiko dan beberapa negara lain juga menyuarakan penolakan mereka terhadap metode dan dampak militerisasi krisis ini.
- Beberapa negara Barat menyambut kabar ditangkapnya pemimpin yang otoriter, melihatnya sebagai akhir dari rezim yang telah lama memicu kekhawatiran tentang pelanggaran HAM serta korupsi.
Sedangkan organisasi internasional hak asasi manusia menyerukan agar semua proses hukum yang dilakukan AS terhadap Maduro dan Flores mematuhi standar internasional dan memastikan hak hukum mereka tetap dihormati, termasuk akses pengacara dan peradilan yang adil.
Impikasi Politik dan Geopolitik
Penangkapan Maduro oleh AS menghadirkan dampak besar terhadap politik domestik Venezuela dan dinamika geopolitik global. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, dan konflik ini berpotensi membuka babak baru keterlibatan aktor global dalam pengelolaan sumber daya strategis tersebut.
Ahli hubungan internasional memperkirakan bahwa kejadian ini dapat memicu pergeseran aliansi geopolitik di kawasan Amerika Selatan — memaksa Venezuela untuk merekonsolidasi hubungan dengan negara-negara seperti Rusia, China, dan Iran, sementara negara-negara Barat mungkin bersiap mendukung transisi politik di Caracas.
Respon Publik di Venezuela
Di dalam negeri, suasana cukup tegang. Masyarakat di ibu kota Caracas dan kota-kota besar lainnya melaporkan mendengar ledakan dari serangan militer, serta kehadiran aktivitas militer yang meningkat di beberapa titik. Beberapa warga mengaku panik, sementara sebagian lain mengikuti seruan Rodríguez untuk tetap tenang dan bersatu.
Kelompok oposisi Venezuela — yang dalam beberapa tahun terakhir mengklaim kemenangan dalam pemilu yang diperdebatkan — kini berada dalam posisi rumit: sebagian mendukung langkah penahanan terhadap Maduro sebagai langkah menuju demokratisasi, namun tetap prihatin terhadap cara intervensi dan dampak humaniternya.
Kesimpulan
Krisis yang melibatkan penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya oleh pasukan AS telah memicu keprihatinan besar di tingkat nasional dan internasional. Tuntutan Wakil Presiden Delcy Rodríguez untuk pembebasan segera dan kecamannya terhadap AS sebagai “penculik brutal” menandai eskalasi politik dan diplomatik yang tajam. Situasi ini membuka pertanyaan penting tentang masa depan pemerintahan Venezuela, peran hukum internasional, serta bagaimana negara-negara besar dapat atau tidak dapat campur tangan dalam urusan dalam negeri yang kompleks.

