BeritaGlobalKriminalitasViral

Chaos di Iran: Warga Turun ke Jalan, Kutuk Khamenei, dan Masjid Dibakar dalam Gelombang Protes Nasional

TEHERAN, IRAN Beritaseakrang .id — Iran sedang dilanda gelombang protes terbesar dalam beberapa tahun terakhir setelah ekonomi yang terpuruk, pemutusan akses internet nasional, dan kekerasan yang meningkat mendorong jutaan warga turun ke jalan di berbagai kota besar. Demonstrasi yang awalnya dipicu oleh aksi protes ekonomi telah berkembang menjadi tantangan langsung terhadap rezim Islam konservatif yang dipimpin oleh Ayatollah Ali Khamenei, dengan slogan-slogan tajam dan insiden pembakaran masjid menandai eskalasi drastis konflik antara rakyat dan pemerintah.


Aksi Massa yang Menolak Khamenei dan Rezimnya

Sejak Desember 2025, gelombang demonstrasi telah menyebar secara nasional, dipicu oleh kerusuhan sosial akibat kondisi ekonomi yang memburuk — termasuk inflasi tinggi, nilai mata uang yang terjun bebas, dan ketidakpuasan luas terhadap elit penguasa. Berdasarkan rekaman video yang beredar, ribuan warga berkumpul di Teheran, Mashhad, Tabriz, Qom, Isfahan, dan kota-kota lain di seluruh Iran, meneriakkan slogan seperti “Matilah Khamenei” serta “Long live Shah”, merujuk pada figur Ayatollah Ali Khamenei dan nostalgia masa monarki.

Demonstran tidak lagi hanya menuntut perubahan ekonomi, tetapi juga menolak kepemimpinan berpuluh tahun ulama di Iran. Aksi yang berlangsung sejak awal Januari 2026 ini dianggap sebagai salah satu tantangan terbesar terhadap pemerintah sejak protes besar pada awal 2000-an.


Insiden Masjid Dibakar dan Slogan Provokatif

Insiden yang paling menyita perhatian adalah pembakaran salah satu masjid besar di Teheran, yang menjadi simbol amarah publik terhadap lembaga keagamaan yang selama ini dipandang sebagai tiang utama kekuasaan rezim. Menurut beberapa laporan dan rekaman yang beredar di luar Iran, massa terlihat mengepung dan membakar bangunan ibadah tersebut di tengah kondisi kerusuhan yang semakin memuncak.

Pembakaran masjid, yang merupakan tempat suci dalam negara Islam, bukan hanya peristiwa fisik — tetapi juga simbol revolusi perasaan rakyat yang menolak kekuasaan ulama secara struktural. Aksi ini juga diikuti dengan video viral di media sosial yang menunjukkan warga membakar foto pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan bahkan menggunakannya secara provokatif dalam bentuk simbolik lainnya.


Pemutusan Internet dan Upaya Pemerintah Menekan Gelombang Protes

Sebagai respons atas eskalasi ini, aparat berwenang Iran memberlakukan pemutusan akses internet seluruh negeri, sebuah tindakan represif yang dirancang untuk memutus komunikasi antar demonstran dan menghambat penyebaran informasi ke dunia luar. Pemadaman ini telah berlangsung selama beberapa hari dan memutus ikatan antara jutaan warga Iran dengan jaringan global, sehingga sulit untuk memverifikasi situasi secara independen dari dalam negeri.

Pembatasan internet ini juga mempersulit organisasi kemanusiaan dan media luar negeri untuk menghitung korban dan situasi di lapangan. Meskipun demikian, video yang masih berhasil keluar dari Iran menunjukkan bentrokan sengit antara aparat keamanan dan demonstran di banyak titik kota besar.


Korban Jiwa dan Penindakan Brutal

Lembaga pemantau hak asasi manusia yang berbasis internasional melaporkan bahwa jumlah korban dalam protes nasional ini terus meningkat. Hingga 10 Januari 2026, telah sedikitnya lebih dari 100 orang tewas dan ribuan ditangkap di seluruh negeri akibat kekerasan yang meluas antara demonstran dan pasukan keamanan.

Pihak berwenang Iran juga menggunakan istilah ekstrem untuk menyebut para demonstran, termasuk menuding mereka sebagai “musuh Tuhan” — sebuah tuduhan yang dalam hukum Iran membawa ancaman hukuman berat, termasuk hukuman mati bagi yang dianggap terlibat dalam aksi.


Penyulut Ekonomi, Politik, dan Sejarah yang Membara

Krisis terbaru di Iran tidak terlepas dari masalah ekonomi yang sudah lama menggerogoti negara tersebut, termasuk inflasi tinggi, nilai Rial yang jatuh, pengangguran, serta kesulitan akses terhadap kebutuhan dasar. Investigasi jurnalistik dan observasi dari kelompok hak asasi dan analis menunjukkan bahwa ketidakpuasan warga sudah mendalam jauh sebelum protes bermula.

Sejarawan dan pengamat politik melihat gelombang demonstrasi ini sebagai evolusi konflik yang telah berlangsung selama beberapa dekade sejak Revolusi Islam 1979. Simbol-simbol yang diajarkan sejak lama — untuk menghormati otoritas ulama dalam kehidupan politik dan sosial — kini dipertanyakan oleh generasi baru rakyat Iran yang menghadapi tekanan ekonomi dan pembatasan sosial yang ketat.


Tokoh Oposisi dan Seruan Kepulangan Reza Pahlavi

Salah satu figur yang kebetulan muncul dalam konteks protes ini adalah Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran yang digulingkan pada revolusi 1979. Dari luar negeri, ia telah menyerukan demonstran untuk terus bertahan dan mengatur aksi lebih luas lagi, bahkan menawarkan visi perubahan yang lebih besar atas sistem pemerintahan saat ini — sesuatu yang dipandang simbolis oleh sebagian kecil warga pemberani yang memimpikan perubahan politik besar.

Seruan-seruan ini menandai ada segmen masyarakat yang lebih luas yang mulai mempertanyakan otoritas teokratis dan melihat masa depan yang berbeda dari sistem politik saat ini — meskipun tetap ada keraguan tentang apa bentuk pemerintahan yang akan datang jika rezim saat ini tumbang.


Tekanan Internasional Semakin Menguat

Situasi yang terus memburuk di Iran juga menarik perhatian dunia internasional. Pemerintah negara-negara Barat seperti Prancis, Jerman, dan Inggris telah mengeluarkan pernyataan bersama yang meminta Iran agar menghormati hak asasi warga negaranya, mengizinkan kebebasan berekspresi dan berkumpul damai, serta menahan diri dari kekerasan yang lebih luas terhadap demonstran.

Human Rights Watch, Amnesty International, dan sejumlah organisasi hak asasi lainnya mengecam penggunaan pemutusan internet sebagai alat represif untuk menyembunyikan pelanggaran HAM serta kriminalisasi terhadap orang-orang yang melakukan protes damai.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dukungan terhadap hak rakyat Iran untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka dan memperingatkan pemerintah Iran agar tidak memperburuk kontak dengan demonstran secara brutal, meskipun detail mengenai bentuk dukungan yang akan diberikan AS masih belum jelas.


Simbolisme Aksi Protes Terbaru

Aktivitas warga Iran dalam protes ini seringkali menyertakan simbol-simbol kuat seperti membakar foto pemimpin tertinggi*, menyuarakan slogan anti-rezim, serta di beberapa tempat, seperti terlihat dari video yang tersebar, bahkan masjid-masjid menjadi lokasi bentrokan dan kebakaran — tindakan yang tidak pernah terjadi dalam skala besar sebelumnya di Republik Islam.

Simbol-simbol semacam ini bukan hanya menunjukkan frustrasi terhadap elite yang berkuasa; mereka juga mencerminkan pemutusan ikatan emosional antara warga dan struktur pemerintahan teokratis yang selama ini dijunjung sebagai inti identitas nasional.


Pilihan Rakyat dan Masa Depan Iran

Protes yang tengah berlangsung telah mengubah sekelompok besar warga Iran dari sekadar protes ekonomi menjadi protes politik — dengan tuntutan yang lebih luas: reformasi besar dalam sistem pemerintahan, penghormatan HAM, transparansi, dan kemungkinan perubahan bentuk pemerintahan itu sendiri.

Meski tekanan pemerintah terus meningkat, termasuk ancaman hukuman berat bagi demonstran, banyak analis melihat bahwa momentum protes tampaknya masih berkembang. Berbagai faktor seperti pembatasan internet, kekerasan aparat, dan friksi politik di tingkat elit hanya memperlihatkan betapa kompleksnya situasi yang sedang berlangsung, sekaligus mempertegas bahwa perubahan besar dalam struktur sosial-politik Iran bukanlah hal yang mudah — tetapi tidak bisa diabaikan.


Kesimpulan

Iran saat ini menghadapi titik krisis nasional. Demonstrasi yang dimulai atas keresahan ekonomi kini berubah menjadi tantangan terhadap rezim yang telah berkuasa puluhan tahun. Warga turun ke jalan, mengutuk pemimpin tertinggi dan simbol-simbol otoritas, sementara keadaan memburuk dengan pembakaran masjid, pemadaman internet, dan tekanan internasional yang terus meningkat. Dampaknya — baik domestik maupun global — masih terus berkembang dan menjadi salah satu peristiwa geopolitik terbesar di awal 2026.