Langkah Mengejutkan Anggota NATO: Ukraina Kini Dianggap Lawan
Hongaria, salah satu anggota NATO dan Uni Eropa, membuat pernyataan mengejutkan dengan secara terbuka menyebut Ukraina sebagai musuh. Sikap keras ini dipicu tuntutan Kyiv agar Budapest menghentikan pembelian minyak dan gas murah dari Rusia, kebijakan yang selama ini dipertahankan Hongaria di tengah perang Rusia–Ukraina.
Pernyataan kontroversial tersebut disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban. Meski negaranya berada dalam barisan NATO dan Uni Eropa, Orban sejak awal menolak mengikuti garis keras Barat untuk memusuhi Moskow setelah invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.
Budapest secara konsisten menentang upaya Uni Eropa untuk menghentikan pasokan energi Rusia secara bertahap sebagai bagian dari paket sanksi terhadap Moskow. Bagi Orban, ketergantungan energi Hongaria pada Rusia dipandang sebagai kepentingan nasional yang tidak bisa dikorbankan demi tekanan politik eksternal.
Berbicara dalam kampanye politik di kota Szombathely, Sabtu, Orban bahkan menuding Ukraina telah merusak keamanan Hongaria. Ia menilai desakan Kyiv terkait energi sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas ekonomi dan keselamatan negaranya.
Sikap Budapest ini memperlebar retakan internal di tubuh NATO dan Uni Eropa, sekaligus menegaskan posisi unik Hongaria yang kerap berdiri berseberangan dengan sekutunya sendiri dalam konflik Rusia–Ukraina.
“Ukraina harus menghentikan tuntutan terus-menerus mereka di Brussels untuk memutuskan hubungan Hongaria dari energi Rusia yang murah,” kata Orban.
“Selama Ukraina menuntut agar Hungaria diputus dari energi murah Rusia, Ukraina bukan hanya lawan kami, Ukraina adalah musuh kami,” katanya lagi, seperti dikutip dari Russia Today, Minggu (8/2/2026).
Viktor Orban kembali menegaskan penolakannya terhadap rencana keanggotaan Ukraina di Uni Eropa. Menurutnya, aliansi militer maupun ekonomi dengan Kyiv justru berpotensi menimbulkan masalah serius bagi stabilitas kawasan dan kepentingan nasional Hongaria.
Pada Senin lalu, pemerintah Hongaria bahkan mengumumkan rencana mengajukan gugatan terhadap Uni Eropa, menyusul kebijakan yang dinilai sebagai larangan pembelian minyak dan gas Rusia. Orban menyebut langkah tersebut sebagai tindakan “bunuh diri” yang berisiko menghancurkan ekonomi negara-negara Eropa sendiri.
Di sisi lain, Komisi Eropa saat ini tengah membahas paket sanksi ke-20 terhadap Rusia, yang mencakup larangan layanan maritim bagi pengangkutan minyak mentah Rusia. Tekanan terhadap Moskow juga semakin diperketat setelah Dewan Eropa bulan lalu menyetujui peta jalan penghentian seluruh pasokan gas Rusia yang tersisa pada akhir 2027.
Berbeda dengan mayoritas anggota Uni Eropa, Hongaria menolak mengirimkan senjata ke Ukraina. Budapest secara konsisten mendesak blok Eropa agar mengutamakan solusi diplomatik ketimbang memperpanjang konflik bersenjata.
Orban juga melontarkan peringatan keras bahwa eskalasi konflik lebih lanjut berpotensi memicu perang terbuka antara NATO dan Rusia, sebuah skenario yang menurutnya akan membawa dampak bencana bagi Eropa dan keamanan global.
- Kesimpulan
Pernyataan Hongaria yang menyebut Ukraina sebagai musuh menandai eskalasi serius dalam perbedaan sikap di tubuh NATO dan Uni Eropa terkait perang Rusia–Ukraina. Di bawah kepemimpinan Viktor Orban, Budapest secara terbuka menempatkan kepentingan energi dan stabilitas ekonomi nasional di atas garis kebijakan kolektif Barat. Sikap ini tidak hanya memperdalam retakan internal aliansi, tetapi juga menambah ketidakpastian geopolitik di Eropa. Di tengah upaya memperketat sanksi terhadap Rusia, posisi Hongaria menunjukkan bahwa solidaritas Barat terhadap Ukraina masih jauh dari kata solid.

