BeritaViral

Fakta vs Mitos: Mengapa Tanah di Tegal Terus Bergeser Secara Misterius?

Bagi masyarakat di daerah perbukitan Tegal, Jawa Tengah, suara retakan dinding rumah di tengah malam bukan lagi sekadar gangguan tidur, melainkan lonceng peringatan bencana. Fenomena tanah bergerak yang melanda beberapa wilayah seperti Kecamatan Sirampog atau daerah sekitarnya seringkali dibalut dengan narasi mistis oleh warga setempat. Isu mengenai “penunggu” yang murka atau pergeseran lubang gaib sering beredar sebagai upaya warga menjelaskan fenomena yang menghancurkan hunian mereka dalam sekejap.

Namun, investigasi terbaru yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama tim ahli geologi memberikan jawaban yang jauh lebih rasional dan berbasis data. Fenomena ini bukan tentang kemarahan alam dalam arti spiritual, melainkan sebuah proses mekanika tanah yang kompleks dan tak terelakkan. Secara geologis, wilayah tersebut memang berada di atas “bom waktu” yang dipicu oleh struktur tanah dan curah hujan.

Struktur Tanah Lempung: Sang Pemicu Utama

Berdasarkan data investigasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas ESDM Jawa Tengah, wilayah Tegal yang terdampak didominasi oleh formasi batuan sedimen yang mengandung mineral lempung dalam kadar tinggi. Mineral ini memiliki sifat fisik yang unik: sangat ekspansif. Dalam bahasa yang lebih sederhana, tanah lempung ini akan mengembang saat menyerap air dan menyusut drastis saat kekeringan.

Mitos yang berkembang sering menyebut bahwa tanah tersebut “menelan” bangunan karena adanya ruang kosong di bawah tanah. Fakta ilmiah menunjukkan bahwa yang terjadi sebenarnya adalah hilangnya daya dukung tanah akibat kejenuhan air. Saat hujan turun dengan intensitas tinggi, air meresap ke dalam pori-pori tanah lempung, menambah beban massa tanah, sekaligus bertindak sebagai pelumas pada bidang gelincir di lapisan bawahnya. Akibatnya, lapisan tanah atas yang lebih berat secara gravitasi akan merayap perlahan mengikuti kemiringan lereng.

Fenomena ini dikenal dalam dunia geologi sebagai soil creep atau rayapan tanah. Berbeda dengan tanah longsor yang terjadi secara mendadak dan cepat, rayapan tanah berlangsung lambat namun konstan, sehingga seringkali tidak disadari hingga retakan-retakan besar muncul di struktur bangunan.

Peran Air dan Drainase yang Buruk

Sering muncul anggapan bahwa penanaman pohon tertentu di area rawan bisa menghentikan pergerakan tanah. Secara teknis, akar pohon memang membantu mengikat tanah, namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa sistem drainase manusia justru sering menjadi katalisator bencana. Investigasi di Tegal mengungkap bahwa banyak aliran air limbah rumah tangga dan air hujan yang tidak dikelola dengan baik, sehingga langsung meresap ke dalam tanah (infiltrasi).

Infiltrasi air yang tidak terkendali ini mempercepat proses pembentukan bidang gelincir. Ketika air terjebak di antara lapisan batuan kedap air dan lapisan tanah lunak di atasnya, tekanan pori air akan meningkat. Inilah yang menyebabkan tanah kehilangan gaya geseknya dan mulai bergerak. Jadi, alih-alih disebabkan oleh aktivitas gaib di bawah tanah, retakan yang muncul adalah hasil dari tekanan hidrostatik yang memaksa tanah untuk mencari keseimbangan baru ke tempat yang lebih rendah.

Mitos “Tanah Kutukan” vs Data Geospasial

Beberapa warga di lokasi terdampak seringkali menganggap wilayah mereka sebagai “tanah kutukan” karena meski rumah sudah diperbaiki berkali-kali, retakan tetap muncul di titik yang sama. Secara ilmiah, ini bukan soal kutukan, melainkan soal morfologi wilayah. Wilayah Tegal bagian selatan secara geospasial memang berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah hingga tinggi.

Peta prakiraan gerakan tanah yang dirilis PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara konsisten menempatkan wilayah ini dalam zona merah. Faktor kemiringan lereng yang lebih dari 20 derajat, ditambah dengan pola penggunaan lahan yang tidak sesuai—seperti mengubah hutan menjadi lahan pertanian sayur yang minim akar kuat—memperparah kondisi ini. Tanpa vegetasi yang tepat, air hujan langsung menghantam tanah dan meresap tanpa hambatan, mempercepat proses rayapan.

Logika Mitigasi: Hidup Berdampingan dengan Risiko

Investigasi Pemprov Jateng memberikan rekomendasi yang sangat logis: relokasi atau adaptasi struktur bangunan. Menghentikan pergerakan tektonik atau sifat alami tanah lempung adalah hal yang mustahil dilakukan manusia. Oleh karena itu, membangun rumah dengan fondasi kaku (beton berat) di atas tanah yang terus bergerak justru akan mempercepat kerusakan, karena bangunan tidak mampu mengikuti fleksibilitas gerakan tanah.

Fakta ilmiah menyarankan penggunaan konstruksi rumah kayu atau rumah panggung yang lebih ringan untuk daerah dengan risiko rayapan tanah tinggi. Selain itu, menutup retakan tanah dengan lempung atau material kedap air segera setelah muncul adalah langkah krusial untuk mencegah air hujan masuk lebih dalam ke bidang gelincir.

Memahami bahwa tanah bergerak adalah fenomena geologi yang bisa dijelaskan dengan fisika dan hidrologi akan membantu masyarakat untuk lebih waspada dan tidak terjebak dalam kepasrahan mistis. Edukasi berbasis data ini menjadi kunci agar mitigasi bencana di masa depan tidak lagi berdasarkan rumor, melainkan berdasarkan pemahaman mendalam tentang karakter bumi yang kita injak.