Viral Curhat Istri Pekerja Program MBG, Kebiasaan Bawa Pulang Telur dan Lauk Picu Sorotan Publik
Sebuah unggahan di media sosial memicu perbincangan luas setelah seorang perempuan mengaku resah dengan kebiasaan suami dan iparnya yang bekerja di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyebut keduanya kerap membawa pulang makanan dalam jumlah besar, mulai dari telur hingga buah-buahan, sehingga menimbulkan reaksi keras dari warganet.
Cerita tersebut pertama kali muncul melalui unggahan Facebook yang kemudian menyebar ke berbagai platform lain. Dalam unggahannya, perempuan itu memperlihatkan satu kantong besar berisi belasan telur goreng yang dibawa pulang oleh suaminya. Ia mempertanyakan jumlah tersebut karena dinilai terlalu banyak untuk disebut sebagai sisa makanan dapur.
Perempuan itu menuliskan bahwa makanan yang dibawa pulang terkadang cukup untuk dikonsumsi selama beberapa hari. Selain telur, ia juga mengaku iparnya sering membawa pulang buah-buahan seperti jeruk, salak, dan apel dari dapur program tersebut. Unggahan itu langsung menyedot perhatian publik dan menjadi viral di media sosial.
Reaksi warganet pun beragam, tetapi sebagian besar mempertanyakan kewajaran jumlah makanan yang dibawa pulang. Banyak yang menilai praktik tersebut berpotensi menjadi bentuk penyalahgunaan jatah makanan program apabila benar terjadi secara rutin.
Sejumlah pengguna media sosial menilai sisa makanan seharusnya hanya dalam jumlah kecil, bukan sampai satu kantong penuh. Ada pula yang menyoroti kemungkinan dampaknya terhadap efektivitas distribusi makanan bagi penerima manfaat program MBG.
Tidak sedikit pula warganet yang mengaku pernah melihat kejadian serupa di lingkungan mereka. Beberapa menyebut tetangga atau kenalan yang bekerja di dapur MBG juga kerap membawa pulang lauk dalam jumlah cukup banyak. Kesaksian tersebut semakin memperkuat kecurigaan publik bahwa fenomena ini mungkin tidak terjadi di satu lokasi saja.
Selain itu, sebagian komentar menyinggung perbandingan antara porsi yang diterima anak-anak penerima program dengan jumlah makanan yang disebut dibawa pulang pekerja. Perbandingan tersebut memicu kekhawatiran publik mengenai pengawasan dan tata kelola distribusi makanan dalam program berskala nasional tersebut.
Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi terkait kebenaran kejadian tersebut maupun apakah praktik itu melanggar aturan program. Unggahan viral tersebut lebih banyak mencerminkan persepsi dan kekhawatiran publik yang muncul dari pengalaman pribadi pengguna media sosial.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu program sosial pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak. Program ini melibatkan banyak dapur produksi dan tenaga kerja di berbagai daerah sehingga membutuhkan sistem pengawasan yang ketat agar distribusi berjalan sesuai tujuan.
Viralnya curhat tersebut menunjukkan bahwa publik memiliki perhatian tinggi terhadap transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan program sosial. Di era media sosial, pengalaman personal yang dibagikan secara daring dapat dengan cepat memicu diskusi nasional, terutama jika berkaitan dengan penggunaan anggaran publik dan kesejahteraan masyarakat.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya pengelolaan program sosial yang transparan serta mekanisme pengawasan yang jelas di lapangan. Jika terjadi penyimpangan, masyarakat berharap pihak terkait dapat segera melakukan evaluasi agar tujuan program tetap tercapai dan manfaatnya tidak berkurang bagi penerima yang berhak.
Di sisi lain, fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana satu unggahan sederhana mampu membuka ruang diskusi publik tentang integritas, distribusi bantuan, serta tanggung jawab para pelaksana program di lapangan.

