Ekonomi

Dolar AS Kian Mendekati Rp17.000, Rupiah Tertekan Ketidakpastian Global

JAKARTA — Nilai tukar dolar Amerika Serikat terus menguat terhadap rupiah dan mendekati level psikologis Rp17.000. Pergerakan ini memicu perhatian pelaku pasar karena menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik di tengah dinamika ekonomi global.

Data perdagangan menunjukkan kurs dolar AS bergerak di kisaran Rp16.800–Rp16.900-an dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut menandakan rupiah masih berada dalam tren melemah, meski fluktuasinya relatif terkendali. Bank Indonesia mencatat posisi rupiah sekitar Rp16.880 per dolar AS pada pertengahan Februari 2026, melemah dibandingkan akhir Januari.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Selain faktor eksternal, permintaan valuta asing dari korporasi domestik juga meningkat seiring aktivitas ekonomi yang kembali tumbuh. Kombinasi faktor tersebut mendorong dolar AS semakin mendekati level Rp17.000.

Tekanan Global dan Permintaan Valas Domestik

Ketidakpastian global masih menjadi faktor dominan dalam pergerakan kurs. Situasi ekonomi dunia yang belum stabil membuat investor cenderung mencari aset yang lebih aman, termasuk dolar AS. Aliran dana global pun berpotensi keluar dari pasar negara berkembang, sehingga menekan mata uang lokal seperti rupiah.

Di sisi lain, kebutuhan impor dan pembayaran luar negeri oleh perusahaan dalam negeri meningkatkan permintaan dolar. Ketika permintaan valas naik, nilai tukar rupiah cenderung melemah jika tidak diimbangi suplai yang cukup.

Bank Indonesia menilai kondisi rupiah saat ini sebenarnya masih mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang relatif baik. Inflasi tetap terjaga dalam kisaran sasaran, sementara prospek pertumbuhan ekonomi dinilai positif. Karena itu, otoritas moneter meyakini rupiah memiliki peluang untuk kembali stabil setelah tekanan eksternal mereda.

Level Psikologis Rp17.000 Jadi Sorotan

Level Rp17.000 per dolar AS dianggap sebagai batas psikologis penting bagi pasar. Ketika kurs mendekati angka tersebut, pelaku usaha biasanya meningkatkan kewaspadaan karena dapat berdampak pada biaya impor, harga bahan baku, hingga inflasi domestik.

Sebelumnya, pergerakan dolar AS di pasar juga sempat tercatat di kisaran Rp16.900-an dan terus menunjukkan tren penguatan terhadap rupiah. Data Bloomberg bahkan pernah menunjukkan dolar berada di level Rp16.986, menandakan jarak menuju Rp17.000 semakin tipis.

Penguatan dolar tidak hanya terjadi terhadap rupiah, tetapi juga terhadap sejumlah mata uang dunia lain, meski pergerakannya bervariasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor global memiliki pengaruh besar terhadap pasar valuta asing.

Upaya Stabilitas dari Bank Indonesia

Bank Indonesia menegaskan akan terus melakukan langkah stabilisasi nilai tukar melalui intervensi pasar dan kebijakan moneter yang terukur. Otoritas juga optimistis nilai tukar rupiah akan kembali stabil seiring terjaganya inflasi, daya tarik imbal hasil investasi domestik, serta pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat.

Selain itu, koordinasi dengan pemerintah terus diperkuat untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas sektor keuangan. Kebijakan fiskal dan moneter yang selaras dinilai menjadi kunci menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global.

Dampak bagi Masyarakat dan Dunia Usaha

Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan harga barang impor, termasuk energi, bahan baku industri, dan produk elektronik. Jika kondisi ini berlangsung lama, tekanan inflasi bisa meningkat dan mempengaruhi daya beli masyarakat.

Namun, pelemahan rupiah juga dapat memberi keuntungan bagi sektor ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Dengan demikian, dampaknya tidak selalu negatif, tergantung pada sektor ekonomi yang terdampak.

Untuk saat ini, pelaku pasar masih menunggu perkembangan ekonomi global serta langkah kebijakan lanjutan dari Bank Indonesia. Pergerakan dolar menuju Rp17.000 akan terus menjadi indikator penting yang dipantau oleh pemerintah, dunia usaha, dan investor.