Dino Patti Djalal: Prabowo Selalu Pegang Opsi Keluar dari Board of Peace
JAKARTA — Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto selalu memegang opsi untuk keluar dari Board of Peace, sebuah inisiatif internasional yang tengah diperkuat, sebagai bagian dari strategi kebijakan luar negeri Indonesia yang fleksibel terhadap dinamika global. (Kompas.com, Kamis, 5 Februari 2026)
Pernyataan ini disampaikan oleh Dino dalam sebuah diskusi publik yang membahas posisi Indonesia di forum diplomasi internasional. Ia menegaskan bahwa meskipun pemerintah menyatakan dukungan terhadap Board of Peace — badan yang dibentuk untuk mendorong perdamaian dunia, termasuk di kawasan Gaza — Presiden Prabowo tetap menjaga ruang kebijakan jika kondisi strategis nasional berubah.
Opsi Keluar sebagai Bagian dari Strategi
Menurut Dino, Prabowo memegang opsi tersebut bukan semata sebagai ancaman atau langkah drastis, tetapi lebih kepada fleksibilitas dalam diplomasi luar negeri. Dalam konteks hubungan internasional, setiap negara mempertahankan hak dan ruang untuk menyesuaikan keterlibatannya di suatu forum berdasarkan kepentingan nasional, dinamika geopolitik, dan hasil negosiasi.
“Seorang kepala negara harus siap dengan berbagai skenario,” ujar Dino. Menurutnya, kebijakan luar negeri yang baik bukan hanya soal ikut serta dalam kerja sama internasional, tetapi juga tentang menjaga kedaulatan dan posisi tawar negara dalam kerangka diplomasi global.
Board of Peace dan Konteks Palestina
Board of Peace merupakan inisiatif beberapa negara untuk berkontribusi dalam upaya perdamaian dan rekonstruksi di wilayah konflik, termasuk Gaza. Indonesia sendiri telah menyatakan partisipasinya sebagai wujud dukungan terhadap penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi damai. Namun menurut pengamat, dinamika konflik yang terus berubah menuntut strategi yang adaptif.
Kebijakan semacam ini berbeda dari posisi tradisional Indonesia di forum multilateral, yang umumnya konsisten pada non-aligned, tetapi tetap memperjuangkan hak dan kesejahteraan rakyat Palestina. Kehadiran Indonesia dalam Board of Peace dipandang sebagai bagian dari diplomasi aktif, sementara opsi keluar tetap menjadi alat policy leverage jika forum tidak mengikuti kepentingan nasional.
Reaksi Publik dan Pakar
Beberapa pengamat diplomasi menyatakan bahwa sikap fleksibel seperti yang disebutkan Dino menunjukkan kekuatan diplomasi pragmatis Indonesia. Mereka melihat bahwa kemampuan menahan opsi keluar bukanlah bentuk melemahkan dukungan kepada perdamaian, tetapi cara menjaga netralitas dan independensi kebijakan luar negeri RI di tengah dinamika global yang kompleks.
