Politik

Kiper Timnas Indonesia Jadi Korban Petasan, Inter Milan Berisiko Dihukum Kalah 0-3

BeritaSekarang.id — Inter Milan kini berada di bawah bayang-bayang sanksi disipliner menyusul aksi tidak terpuji suporter mereka yang melempar petasan atau suar (flare) ke arah kiper Timnas Indonesia, Emil Audero.

Insiden tersebut terjadi dalam laga pekan ke-23 Liga Italia saat Inter Milan bertandang ke markas Cremonese di Stadion Giovanni Zini, Minggu (1/2/2026). Peristiwa memalukan itu berlangsung pada awal babak kedua, ketika Inter tengah membangun serangan.

Tiba-tiba, ledakan keras terdengar di area gawang, disusul kepulan asap tebal yang langsung menutupi Emil Audero. Dari balik asap, kiper Timnas Indonesia itu terlihat terjatuh dan terkapar di lapangan, memicu kepanikan para pemain di sekitarnya.

Petasan tersebut diduga kuat dilempar dari tribun suporter tandang yang ditempati pendukung Inter Milan. Ledakan diperkirakan terjadi hanya sekitar 20 sentimeter dari Audero, sehingga dampaknya terasa meski tidak menimbulkan cedera serius.

Audero sempat mendapatkan perawatan medis di lapangan, sementara sejumlah pemain Inter tampak menegur dan memperingatkan suporternya sendiri. Kiper berusia 29 tahun itu mengalami luka ringan di bagian kaki akibat percikan api, namun dinyatakan masih sanggup melanjutkan pertandingan.

Laga hanya dihentikan sekitar tiga menit sebelum Audero kembali berdiri di bawah mistar gawang dan melanjutkan tugasnya hingga peluit akhir.

Aksi suporter tersebut langsung menuai kecaman luas. Pihak Inter Milan, Cremonese, media Italia, hingga warganet ramai-ramai mengutuk tindakan yang diduga dilakukan oleh pendukung La Beneamata.

Seiring dengan itu, potensi sanksi terhadap Inter Milan pun mulai ramai diperbincangkan. Hukuman yang dianggap paling realistis mencakup denda finansial, penutupan sebagian tribun suporter, hingga larangan mendampingi tim dalam laga tandang.

Namun, spekulasi paling ekstrem menyebut kemungkinan pembatalan hasil pertandingan. Jika skenario ini terjadi, kemenangan Inter Milan dengan skor 2-0—berkat gol Lautaro Martinez dan Piotr Zielinski—berpotensi dianulir dan digantikan dengan kemenangan 3-0 untuk Cremonese.

Kini, publik menanti keputusan Komisi Disiplin Lega Serie A: akankah Inter Milan benar-benar menerima hukuman terberat akibat ulah segelintir suporternya?

“Kemungkinan skor 3-0 (untuk kekalahan Inter) harus dikesampingkan,” ucap mantan wasit Liga Italia, Luca Marelli, kepada DAZN.

“Solusi ekstrem ini hanya diberlakukan dalam kasus insiden serius yang menyebabkan penghentian total pertandingan.”

“Contohnya terjadi dalam laga Salernitana-Sampdoria (2025).

“Hanya jika petasan lainnya dilemparkan ke lapangan yang menyebabkan laga dihentikan, hal itu baru akan membuat hasil 3-0 diberikan secara otomatis,” ujarnya.

Insiden dalam laga Salernitana kontra Sampdoria di Stadion Arechi pada play-off degradasi menuju Serie C musim lalu tercatat sebagai kasus yang jauh lebih parah. Dalam pertandingan tersebut, suporter Salernitana melakukan aksi anarkistis dengan menyalakan suar, melempar bom asap, hingga merusak dan melempar kursi stadion ke dalam lapangan.

Kekacauan yang terjadi membuat pertandingan tidak dapat dilanjutkan dan akhirnya dihentikan secara permanen. Otoritas kompetisi kemudian menjatuhkan kemenangan walkover (WO) 3-0 kepada Sampdoria sebagai konsekuensi atas pelanggaran serius tersebut.

Mengacu pada regulasi disipliner, harian Italia La Repubblica menegaskan bahwa sanksi serupa dapat diterapkan dalam kasus apa pun yang melibatkan pelanggaran suporter.

“Hakim menjatuhkan denda kepada klub mana pun yang suporternya melemparkan benda-benda, bom asap, atau kembang api ke lapangan,” tulis La Repubblica.

“Besaran denda bervariasi tergantung pada tingkat keparahan insiden.”

“Jika petasan meledak di dekat pemain, denda yang dimulai dari 10.000 euro (Rp198,7 juta) dapat menjadi sangat berat; dalam hal ini, bisa mencapai 50.000 euro (Rp993,3 juta).”

“Dalam kasus pelanggaran berulang atau keadaan yang memperberat, hukuman dapat lebih serius dan mengakibatkan penutupan bagian tribun stadion (curva) serta pencabutan izin,” tulisnya.

Kondisi korban dalam insiden tersebut—dalam hal ini Emil Audero—menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat keparahan peristiwa. Apabila pemain yang bersangkutan mengalami cedera serius hingga harus ditarik keluar atau insiden tersebut memicu kericuhan di lapangan, sanksi yang dijatuhkan berpotensi menjadi jauh lebih berat.

Adapun pembatalan hasil pertandingan baru dapat diberlakukan apabila petasan atau suar kembali diledakkan ke area lapangan sehingga laga terpaksa dihentikan demi alasan keamanan.

Dalam konteks ini, Presiden Inter, Beppe Marotta, memberikan apresiasi tinggi terhadap sikap profesional Emil Audero yang tetap tenang dan sigap melanjutkan pertandingan. Keputusan tersebut membuat insiden dinilai tidak berada pada tingkat yang terlalu serius, sehingga pertandingan tidak perlu ditangguhkan, melainkan hanya mengalami penundaan singkat selama beberapa menit.

Audero—yang pernah membela Inter dan menjadi bagian dari skuad peraih gelar Liga Italia musim 2023–2024—juga menuai pujian karena tidak menunjukkan reaksi berlebihan meski sempat mendapat teror dari suporter, sebuah sikap yang mencerminkan kedewasaan dan profesionalisme seorang atlet.

“Insiden itu sungguh gestur yang bodoh dan tidak sportif,” ucap Marotta mengkritik pelaku pelemparan.

“Kita harus menunggu sebelum membuat penilaian apa pun selanjutnya.”

“Saya berterima kasih kepada Audero karena dengan sikap profesionalismenya yang hebat, ia memungkinkan laga berlanjut dan berakhir sesuai jadwal,” ucapnya.

  • Kesimpulan

Insiden pelemparan petasan ke arah Emil Audero menjadi catatan serius bagi Inter Milan, namun tidak serta-merta berujung pada hukuman paling ekstrem. Berdasarkan regulasi dan preseden yang ada, pembatalan hasil pertandingan atau kekalahan 0-3 baru dapat diberlakukan apabila insiden menyebabkan penghentian total laga atau menimbulkan dampak yang jauh lebih parah.