Kesehatan

Peringatan Hari Gizi Nasional: PERSAGI Soroti Risiko Kesehatan di Balik Tingginya Konsumsi Makanan UPF

Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional 2026, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) mengingatkan masyarakat tentang bahaya yang mengintai di balik konsumsi makanan ultra-processed food (UPF) secara berlebihan. Organisasi profesi ini menekankan bahwa pola makan modern yang terlalu bergantung pada makanan olahan industri berisiko meningkatkan penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Pernyataan ini disampaikan oleh edukator gizi PERSAGI, Ni Ketut Aryas Tami, saat berbicara kepada wartawan di Jakarta.

UPF dan Risiko Penyakit Kronis

PERSAGI menyoroti tren konsumsi tinggi makanan ultra-processed yang dipercepat oleh gaya hidup cepat dan kemudahan akses terhadap makanan siap saji. Produk-produk UPF ini seperti mi instan, keripik, makanan siap saji kemasan, dan minuman berpemanis telah menjadi pilihan banyak keluarga, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Ni Ketut menjelaskan, makanan ini umumnya mengandung gula, garam, dan lemak berlebih yang bisa memicu gangguan metabolik ketika dikonsumsi rutin.

Menurut peneliti gizi, asupan gula tinggi berhubungan erat dengan risiko diabetes tipe 2, sementara konsumsi garam berlebih bisa mempercepat terjadinya hipertensi. Lemak jenuh dalam UPF juga meningkatkan peluang gangguan kardiovaskular jika tubuh mengalami akumulasi lemak darah yang tinggi. “Gula ke diabetes, garam ke hipertensi, lemak ke jantung,” ujar Ni Ketut.

Sindrom Metabolik dan Dampaknya

PERSAGI menggarisbawahi bagaimana pola makan tinggi UPF dapat berkaitan dengan sindrom metabolik — sekelompok kondisi kesehatan yang mencakup tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan gangguan kadar lipid. Sindrom ini bukan sekadar angka statistik, tetapi merupakan faktor risiko utama penyakit jantung, stroke, dan komplikasi kesehatan serius lainnya saat usia masih produktif. “Kasus sindrom metabolik kini semakin banyak muncul pada usia muda,” tegas Ni Ketut.

Studi global menunjukkan tren konsumsi UPF juga dikaitkan dengan kualitas diet yang buruk dan tingkat kekurangan mikronutrien pada anak-anak serta remaja. Data penelitian internasional melaporkan bahwa anak dengan tingkat konsumsi UPF tinggi berpeluang lebih besar mengalami defisiensi vitamin dan mineral penting, dibandingkan anak yang lebih banyak mengonsumsi makanan segar dan minim proses.

Fakta Ilmiah tentang Ultra-Processed Food

UPF dikenal oleh para ahli nutrisi sebagai produk yang melalui banyak tahap pengolahan industri dan biasanya mengandung banyak bahan tambahan, termasuk pemanis buatan, pengemulsi, pewarna, serta lemak dan gula tambahan. Meta-analisis dan riset konsisten menunjukkan hubungan antara diet tinggi UPF dan risiko obesitas, diabetes, serta penyakit kardiovaskular, bahkan meningkatkan risiko kematian dini.

Selain itu, riset lain memperingatkan bahwa konsumsi makanan ultra-processed juga berkaitan dengan ketidakseimbangan asupan gizi sehari-hari, karena makanan ini cenderung rendah serat, vitamin, dan mineral padahal tinggi energi kosong. Kondisi ini dapat mengganggu pertumbuhan dan kesehatan jangka panjang, khususnya pada generasi muda.

Edukasi Gizi dan Penanganan Pola Makan

Peringatan dari PERSAGI selaras dengan tema Hari Gizi Nasional 2026, yaitu “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” yang menekankan pentingnya konsumsi makanan bergizi seimbang dan berbasis pangan lokal. Tema ini mengajak masyarakat Indonesia untuk mulai memilih makanan segar, hasil pertanian lokal, dan mengurangi ketergantungan pada makanan olahan industri.

Para ahli gizi juga mendorong edukasi gizi yang lebih intensif di sekolah-sekolah, komunitas, dan media massa agar masyarakat memahami risiko kesehatan dari pola makan yang salah. Penyuluhan tentang cara membaca label nilai gizi, memilih sumber protein, karbohidrat kompleks, serta memperbanyak konsumsi sayur dan buah menjadi poin penting.

Tantangan dan Solusi

Meski kesadaran tentang makanan sehat terus meningkat, tantangan nyata masih ada. Banyak masyarakat yang sulit mengakses makanan bergizi karena faktor harga dan gaya hidup. Studi menunjukkan bahwa akses terhadap makanan sehat masih menjadi hambatan utama sehingga banyak orang memilih makanan instan karena lebih murah dan mudah ditemukan.

Untuk mengatasi hal ini, PERSAGI menyarankan kolaborasi antara pemerintah, industri pangan, dan masyarakat guna menciptakan lingkungan makanan yang mendukung pilihan sehat. Ini bisa meliputi kebijakan pembatasan iklan makanan tidak sehat kepada anak-anak, insentif bagi industri yang memproduksi pangan rendah gula dan garam, serta kampanye gizi nasional yang kuat.