Waspada Lonjakan Gula Darah Setelah Makan Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer Hingga 69 Persen
JAKARTA beritasekarang.id — Kadar gula darah yang melonjak setelah makan ternyata tidak hanya berdampak pada metabolisme tubuh dan diabetes, tetapi juga berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit Alzheimer hingga 69 persen menurut hasil studi genetik skala besar terbaru. Temuan ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana pola glukosa tubuh setelah makan (postprandial glucose) dapat memengaruhi kesehatan otak jangka panjang.
Penelitian yang dipimpin oleh University of Liverpool ini menggabungkan analisis genetik dan data kesehatan dari lebih dari 350.000 orang dewasa berusia 40–69 tahun untuk mengevaluasi hubungan antara lonjakan gula darah setelah makan dan risiko Alzheimer. Hasilnya menunjukkan bahwa lonjakan gula darah pasca-makan — yang dikenal sebagai hiperglikemia postprandial — merupakan salah satu faktor utama yang berkaitan dengan risiko demensia jenis Alzheimer.
Apa Itu Lonjakan Gula Darah Setelah Makan?
Setelah makan, tubuh memecah karbohidrat menjadi glukosa yang kemudian masuk ke dalam aliran darah. Normalnya, insulin yang diproduksi pankreas akan membantu sel-sel tubuh menyerap glukosa untuk energi. Namun pada beberapa orang, kadar gula darah dapat melonjak tajam setelah makan — suatu kondisi yang disebut postprandial hyperglycemia — sebelum akhirnya turun kembali beberapa jam setelahnya.
Hiperglikemia postprandial umum terjadi pada:
- penderita diabetes tipe 2 atau pre-diabetes,
- orang dengan resistensi insulin,
- individu yang pola makannya tinggi gula sederhana atau makanan berindeks glikemik tinggi.
Meski sering dianggap hanya masalah metabolik, studi terbaru menyoroti dampaknya pada kesehatan otak, menunjukkan bahwa spike glukosa yang tajam setelah makan bisa lebih berbahaya daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Hasil Studi: Risiko Alzheimer Meningkat 69 Persen
Penelitian ini menggunakan pendekatan statistik yang disebut Mendelian randomization, yaitu mengevaluasi hubungan kausal berdasarkan variasi genetik yang terkait dengan kadar gula darah. Teknik ini memungkinkan peneliti untuk menilai apakah kenaikan gula darah setelah makan memang berkontribusi langsung terhadap risiko penyakit Alzheimer, bukan hanya sekadar berkaitan.
Analisis dari lebih dari 350.000 peserta dalam UK Biobank menunjukkan bahwa mereka yang memiliki kecenderungan genetik untuk mengalami lonjakan gula darah setelah makan memiliki risiko sekitar 69% lebih besar menderita Alzheimer dibandingkan mereka tanpa kecenderungan tersebut.
Yang mengejutkan, peningkatan risiko ini tidak dapat dijelaskan oleh kerusakan otak yang terlihat secara struktural, seperti penyusutan otak (brain atrophy) atau kerusakan materi putih (white matter). Ini menandakan bahwa mekanisme yang mendasari hubungan antara lonjakan gula darah dan penyakit Alzheimer mungkin bekerja melalui jalur biologis yang lebih halus dan belum sepenuhnya dipahami.
Mengapa Lonjakan Gula Darah Bisa Berisiko bagi Otak?
Penelitian sebelumnya telah lama menunjukkan bahwa kondisi seperti hiperglikemia, diabetes tipe 2, dan resistensi insulin dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif dan risiko demensia. Akan tetapi studi postprandial ini menyoroti pentingnya pola gula darah setelah makan, bukan sekadar gula darah puasa atau ukuran gula darah rata-rata.
Beberapa mekanisme yang dicurigai antara lain:
- Kerusakan pembuluh darah kecil di otak (mikroangiopati) akibat fluktuasi gula darah yang tajam,
- Inflamasi sistemik yang selanjutnya mempengaruhi jaringan otak,
- Stres metabolik pada sel saraf yang mengganggu fungsi dan integritas neuron.
Meskipun mekanisme pastinya masih ditelusuri, temuan ini semakin memperkuat hubungan antara regulasi gula darah dan kesehatan otak secara keseluruhan.
Apa Artinya Bagi Pencegahan Alzheimer?
Menurut penulis utama penelitian, Dr. Andrew Mason, temuan ini bisa menjadi dasar strategi pencegahan baru yang lebih spesifik untuk melindungi kesehatan otak. “Temuan ini menyoroti pentingnya mengelola kadar gula darah tidak hanya secara keseluruhan, tetapi secara khusus setelah makan,” ujar Mason.
Sementara itu, Dr. Vicky Garfield, penulis senior studi, mengatakan bahwa langkah berikutnya adalah mereplikasi temuan ini pada populasi dengan latar belakang genetik dan etnis yang berbeda. Jika hubungan ini tervalidasi secara konsisten, penelitian tersebut berpotensi membuka cara baru dalam mengurangi risiko demensia pada orang dengan diabetes atau gangguan glukosa.
Bagaimana Mengelola Gula Darah Setelah Makan?
Mengatur kadar gula darah pasca-makan bukan hanya relevan bagi penderita diabetes, tetapi juga penting bagi siapa saja yang ingin menjaga kesehatan otak di masa depan. Berikut beberapa strategi yang direkomendasikan oleh ahli kesehatan:
- Pilih makanan dengan indeks glikemik rendah seperti sayuran, biji-bijian utuh, dan protein tanpa lemak yang membantu mencegah lonjakan gula darah tajam.
- Konsumsi serat tinggi untuk memperlambat penyerapan glukosa setelah makan.
- Aktivitas fisik ringan setelah makan, seperti berjalan kaki selama 10-20 menit, dapat membantu menurunkan lonjakan gula darah.
- Pantau kadar gula darah secara teratur, terutama bagi orang dengan diabetes atau pre-diabetes.
Pendekatan gaya hidup seperti ini tidak hanya membantu menstabilkan gula darah, tetapi juga berkontribusi pada kesehatan kardiovaskular serta fungsi kognitif secara umum.
Korelasi dengan Risiko Diabetes dan Demensia
Hiperglikemia postprandial seringkali menjadi indikator awal gangguan metabolisme seperti diabetes tipe 2 atau pre-diabetes. Studi lain menunjukkan bahwa orang dengan diabetes memiliki risiko demensia lebih tinggi dibandingkan yang tidak menderita diabetes, mempertegas bahwa kesehatan metabolik sangat berperan dalam kesehatan otak.
Selain itu, gangguan metabolik seperti obesitas, hipertensi, dan kadar kolesterol tinggi yang sering menyertai resistensi insulin juga merupakan faktor risiko yang berkontribusi terhadap fungsi kognitif menurun di kemudian hari.
Pesan Kunci Bagi Masyarakat
Studi ini memberikan pesan kuat bahwa pengelolaan gula darah pasca-makan merupakan lebih dari sekadar masalah metabolisme. Kadar gula darah yang melambung tinggi setelah makan — bahkan di luar diagnosis diabetes — bisa menjadi sinyal risiko kesehatan otak yang serius.
Dengan semakin banyaknya bukti ilmiah yang mengaitkan pola gula darah dengan risiko Alzheimer dan demensia, upaya pencegahan sejak dini melalui pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi semakin penting untuk komunitas luas.
Kesimpulan
Temuan studi genetik besar dari University of Liverpool menunjukkan bahwa lonjakan gula darah setelah makan dapat meningkatkan risiko Alzheimer hingga 69 persen. Hubungan ini tidak semata akibat kerusakan struktural otak, tetapi kemungkinan melalui proses biologis yang lebih halus dan kompleks.
Penting bagi individu dan profesional kesehatan untuk mengadopsi strategi pengendalian gula darah postprandial, tidak hanya untuk pencegahan diabetes tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan otak di masa depan.

